Isu mundurnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di tengah tekanan ekonomi mulai mengemuka. Meski belum ada konfirmasi resmi, analis menilai kemungkinan itu bukan tanpa alasan.
Menurut pengamat ekonomi Erizeli Jely Bandaro, yang lebih penting diperhatikan bukanlah siapa yang mundur, melainkan kondisi yang mendorongnya. "BI berdarah-darah menahan kejatuhan rupiah, sementara pemerintah tetap tidak bisa disiplin fiskal boros dengan program MBG, Kopdes, dan lain-lain. Akibatnya upaya BI seperti menggarami air laut, sia-sia," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam situasi seperti ini, pejabat sekelas Perry bisa saja memilih mundur. Apalagi kondisi ekonomi sudah cenderung fiskal dominan. Dominasi fiskal atau fiscal dominance adalah kondisi ketika utang dan defisit anggaran pemerintah yang terlalu tinggi membuat bank sentral kehilangan independensinya dan terpaksa mencetak uang atau menurunkan suku bunga demi membiayai kebutuhan negara.
"Yang penting substansinya. Bukan orangnya," tegas Bandaro.
Artikel Terkait
Istana Dikabarkan Minta Gubernur BI Mundur, Hubungan dengan Pemerintah Kian Renggang
Menkeu Purbaya Tegaskan Tak Berniat Maju sebagai Gubernur BI
Tempo Ungkap Tekanan Istana di Balik Mundurnya Perry Warjiyo
Proses Pemilihan Gubernur BI Dimulai, DPR Gelar Fit and Proper Test