Megawati Keluhkan TIM Berubah, Minta Pramono-Rano Kembalikan Fungsi Awal

- Selasa, 21 Juli 2026 | 19:42 WIB
Megawati Keluhkan TIM Berubah, Minta Pramono-Rano Kembalikan Fungsi Awal

Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyayangkan perubahan yang terjadi di Taman Ismail Marzuki (TIM). Ia menilai pusat kesenian di Cikini, Jakarta Pusat, itu kini tidak lagi seperti dulu.

Hal itu disampaikan Megawati saat menghadiri Pameran Sejarah dan Arsip Foto dalam rangka memperingati 30 tahun Peristiwa Kudatuli di TIM, Selasa (21/7). Menurutnya, TIM yang dibangun oleh Ali Sadikin sejatinya diperuntukkan bagi para seniman.

“TIM ini dibuat oleh Pak Ali Sadikin. Tapi waktu itu sebenarnya dipergunakan untuk para seniman. Tapi setelah beliau tidak ada lagi, ini berubah-ubah,” ujar Megawati.

Ia pun meminta kadernya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno, untuk mengembalikan fungsi TIM sebagai wadah para seniman. Megawati mengaku menerima banyak keluhan dari seniman yang kesulitan mencari tempat berkreasi.

“Dan ketika yang namanya Alhamdulillah partai kami menang, PDI Perjuangan, sehingga gubernurnya adalah Pak Pramono Anung dan wakilnya Pak Rano Karno, sebelum saya memberikan tugas kepada mereka berdua, saya bilang. ‘Itu namanya TIM itu mbok dikembalikan seperti apa adanya’,” ujar Megawati.

Megawati menceritakan pengalamannya berkunjung ke TIM di masa lampau. Kunjungan terbarunya disebut membangkitkan memori lama. Ia menilai suasana TIM kini sudah berbeda, bahkan cenderung lebih ‘borjuis’.

“Dulu di sini, ini yang buat, ini planetarium. Dulu di mana ya? Saya suka nonton teater terbuka. Saya sampai mendapatkan kartunya untuk masuk, dan sangat banyak atau digemari dipenuhi karena harganya murah meriah,” ungkap Mega.

Megawati pun berpesan kepada Pramono dan Rano untuk tetap menjaga elemen kebudayaan TIM. Ia menegaskan pentingnya menjadikan TIM sebagai tempat bagi seniman menampilkan kreasi.

“Iya betul, karena rakyat tidak bisa dengan senang, dengan ini seperti di teater terbukanya itu. Dan alhamdulillah setelah dipegang oleh Gubernur, saya panggilnya Pram saja sama kalau beliau saya panggilnya Si Doel,” kata Megawati.

“Ya, ini bagian kebudayaan, saya bilang: 'Awas lo ya, kalau kamu tidak membuat yang namanya ini, TIM ini menjadi sebuah tempat bagi para seniman yang ingin menampilkan kreasi-kreasi mereka,” tambahnya.

Megawati juga menyebut bahwa ayahnya, Presiden pertama Soekarno, bukan hanya seorang politisi tetapi juga seniman. Ia mengingat bahwa keluarganya memiliki latar belakang seni.

“Saya ingat Bapak saya, Bung Karno. Bayangkan, karena beliau sebetulnya banyak orang tidak tahu bahwa keluarga Bung Karno tuh banyak diketahui banyak orang: orang politik, keren, bla bla bla. Padahal sebenarnya keluarga kami, Ibu saya, Bapak saya, kami sendiri itu menjadi seniman dan seniwati,” pungkas dia.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags