Healing Gen Z: Antara Kebutuhan Istirahat dan Pelarian dari Tanggung Jawab

- Selasa, 21 Juli 2026 | 05:06 WIB
Healing Gen Z: Antara Kebutuhan Istirahat dan Pelarian dari Tanggung Jawab

Fenomena healing di kalangan anak muda, khususnya Generasi Z, kini semakin marak. Ungkapan seperti "healing dulu, nanti lanjut lagi" telah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Setelah disibukkan dengan tugas kuliah, pekerjaan, atau rutinitas padat, banyak yang memilih pergi ke tempat wisata, nongkrong di kafe, menonton konser, atau sekadar menikmati waktu sendiri untuk melepas penat. Di media sosial, aktivitas ini kerap dibagikan dengan tagar healing atau self-care.

Tren ini tidak semata-mata karena ikut-ikutan. Menurut sejumlah pengamat, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental mulai tumbuh di kalangan muda. Dulu, keluhan lelah atau stres sering dianggap berlebihan. Kini, semakin banyak yang berani mengakui bahwa mereka butuh waktu untuk beristirahat dan menenangkan diri.

Namun, makna healing perlahan bergeser. Banyak yang menganggap healing harus identik dengan liburan ke tempat estetik, nongkrong di kafe viral, atau membeli barang sebagai reward. Padahal, healing tidak harus mahal. Setiap orang punya cara berbeda untuk memulihkan energi. Jalan sore, membaca buku, menonton film favorit, atau tidur lebih lama di akhir pekan bisa menjadi pilihan. Bahkan menghabiskan waktu bersama keluarga atau berbincang dengan teman dekat juga efektif. Yang terpenting bukan tempatnya, melainkan apakah kegiatan itu benar-benar membuat pikiran lebih baik.

Di sisi lain, healing sebaiknya tidak dijadikan alasan untuk menghindari tanggung jawab. Candaan di media sosial seperti "healing dulu, tugas belakangan" mungkin terdengar lucu, tetapi jika dilakukan terus-menerus bisa menjadi kebiasaan buruk. Masalah yang dihindari tidak akan hilang hanya dengan berlibur. Setelah kembali, tugas dan tanggung jawab tetap menunggu.

Wajar jika banyak Gen Z merasa mudah lelah. Selain tuntutan kuliah atau pekerjaan, mereka hidup di era media sosial yang memicu perbandingan sosial. Hampir setiap hari ada unggahan tentang pencapaian, liburan, atau kesuksesan orang lain. Tanpa sadar, hal itu membuat seseorang merasa tertinggal atau tidak cukup baik. Kondisi inilah yang mendorong kebutuhan untuk berhenti sejenak dari tekanan.

Healing seharusnya dipahami sebagai cara mengisi ulang energi, bukan pelarian dari kenyataan. Setelah beristirahat, kita harus kembali menghadapi masalah dan mencari jalan keluarnya. Tujuan healing adalah agar fisik dan mental lebih siap menjalani aktivitas sehari-hari.

Pada akhirnya, budaya healing tidak sepenuhnya negatif. Selama dilakukan dengan bijak, healing bisa menjadi strategi bertahan di tengah tekanan hidup. Beristirahat bukan berarti menyerah, melainkan memberi diri kesempatan untuk mengambil napas sebelum melanjutkan perjalanan. Yang terpenting bukan seberapa sering healing, melainkan apakah setelah itu kita benar-benar lebih siap menghadapi tantangan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags