Indonesia mulai membuka peluang ekspor produk unggas ke China dan Timur Tengah sebagai langkah memperluas pasar, menyerap kelebihan produksi, dan memperkuat kesejahteraan peternak nasional. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kebutuhan pangan di pasar internasional.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan, Kementerian Pertanian terus memperluas akses pasar ekspor sebagai solusi jangka panjang agar keseimbangan pasokan dan permintaan terjaga. "Kementerian Pertanian tengah membuka peluang ekspor produk unggas ke berbagai negara, termasuk Tiongkok dan kawasan Timur Tengah, seiring meningkatnya kebutuhan pangan di pasar internasional," ujarnya, Senin (20/7/2026).
Menurut Sudaryono, pembukaan pasar ekspor tidak hanya ditentukan oleh aspek bisnis, tetapi juga memerlukan dukungan hubungan diplomatik antarnegara. "Ekspor bukan hanya soal harga dan kualitas produk. Ada proses diplomasi antarnegara yang harus dibangun," katanya. Karena itu, pemerintah terus memperkuat hubungan dengan berbagai negara agar semakin banyak pasar ekspor yang terbuka bagi produk pertanian Indonesia.
Ia menambahkan, kondisi perunggasan nasional saat ini mengalami kelebihan pasokan dibandingkan permintaan. "Ketersediaan ayam dan telur justru menunjukkan produksi nasional dalam kondisi baik sehingga tantangan utama pemerintah adalah mengelola distribusi dan menjaga keseimbangan pasar," jelasnya.
Selain ekspor, Kementerian Pertanian juga berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar program makan bergizi gratis (MBG) dapat mengoptimalkan penyerapan komoditas pangan dalam negeri, termasuk ayam dan telur, ketika terjadi penurunan harga di tingkat peternak.
Artikel Terkait
Indonesia-China Perluas Kerja Sama Pertahanan, Pabrik Rudal Segera Dibangun
Bareskrim Bongkar Praktik Pengantin Pesanan ke China, Korban Dijanjikan Rp 10 Juta per Bulan
Tingkat Pengangguran Anak Muda China Melonjak ke 17,9 Persen, Terberat dalam Sejarah
Saham Unitree Robotics Melonjak 600 Persen Usai IPO di Shanghai