Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa serangan balasan akan dilancarkan dengan kekuatan yang lebih besar jika Teheran tidak mampu mengendalikan kelompok proksinya, Hizbullah, di Lebanon. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah yang masih berlangsung, meskipun Amerika Serikat telah mengumumkan gencatan senjata pada pekan lalu.
Ancaman tersebut disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social. Ia mendesak Iran segera menghentikan aktivitas Hizbullah yang dinilainya menimbulkan masalah di Lebanon. "Jika mereka tidak melakukannya, kami akan kembali menyerang Iran dengan sangat keras, seperti yang kami lakukan pekan lalu, hanya saja lebih keras lagi," ujar Trump, Senin (22/6/2026).
Sementara itu, Israel menghadapi tekanan besar dalam perang darat melawan Hizbullah di Lebanon Selatan. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melaporkan kehilangan sedikitnya empat personel, termasuk seorang perwira, dalam pertempuran beberapa hari terakhir. Kondisi ini membuat militer Israel semakin agresif dengan membombardir wilayah Lebanon, yang menewaskan 32 orang hanya dalam sehari pada Sabtu (20/6/2026).
Serangan brutal Israel tersebut memicu respons langsung dari Iran. Pada Minggu (21/6/2026), Iran kembali menutup Selat Hormuz, jalur perairan strategis bagi pasokan energi dunia. Teheran menilai Amerika Serikat dan Israel telah melanggar nota kesepahaman (MoU) perjanjian gencatan senjata yang baru ditandatangani Trump dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada Rabu lalu.
Dalam kesempatan terpisah, saat diwawancarai stasiun televisi Fox News, Trump berbicara langsung kepada warga Iran. Ia memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz terus ditutup, maka tak akan ada lagi negara Iran. "Kalian bahkan tidak akan bisa kembali ke negara kalian," ujarnya.
Trump juga menyampaikan kemungkinan Amerika Serikat mengambil alih kendali atas jalur perairan tersebut jika diperlukan. Ia menyebut AS bisa menjadi malaikat pelindung Selat Hormuz seraya merebut 20 persen minyak yang dihasilkannya. "Jika mereka tidak membuat kesepakatan, kami akan memungut biaya," kata Trump.
Artikel Terkait
Dua Bocah di Batang Rusak Fasilitas SD, Polisi: Usianya di Bawah 12 Tahun Tak Bisa Diproses Hukum
Kenaikan BI Rate ke 5,75 Persen Mulai Tekan Daya Beli Properti Menengah
Marco Bezzecchi Didiskualifikasi dari MotoGP Ceko 2026 Usai Dorong dan Pukul Marshal
Refly Harun Jenguk Roy Suryo dan dr. Tifa di RS Polri, Kondisi Kesehatan Keduanya Masih di Bawah 50 Persen