Presiden Bolivia, Rodrigo Paz, secara resmi mengumumkan status darurat nasional menyusul gelombang demonstrasi yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Langkah ini memberikan wewenang kepada militer untuk membuka blokade jalan yang dilakukan para pengunjuk rasa, yang dinilai telah mengganggu distribusi pasokan makanan dan bahan bakar di negara tersebut.
Barikade yang didirikan di sejumlah jalan utama dilaporkan secara efektif mengisolasi ibu kota administratif, La Paz. Para demonstran menuntut Paz mundur dari jabatannya karena kebijakan penghematan yang diterapkan pemerintah dinilai telah melumpuhkan perekonomian selama 50 hari terakhir.
Dalam pidato yang disiarkan secara langsung kepada warganya pada Sabtu (20/6) pagi, Paz menegaskan bahwa aksi blokade yang terjadi bukan lagi sekadar protes sosial, melainkan upaya terorganisir untuk menggoyahkan demokrasi Bolivia.
“Ini bukan keadaan darurat untuk membatasi kehidupan masyarakat. Ini adalah keadaan darurat untuk mengembalikan kebebasan masyarakat,” ujar presiden dalam pidatonya.
Ia menjelaskan bahwa status darurat tersebut bertujuan untuk memastikan pasokan bahan bakar tetap tersalurkan, mengingat blokade jalan telah menghambat pergerakan truk tangki. Menurut pernyataan resmi pemerintah, dekrit ini akan berlaku selama 90 hari, namun dapat dicabut lebih awal jika kekerasan dan ancaman terhadap penduduk berakhir.
Secara spesifik, dekrit tersebut melarang aktivitas memblokir jalan, jalur, dan jalan raya yang dapat mengganggu transportasi serta distribusi pasokan. Perintah itu juga menginstruksikan angkatan bersenjata untuk sementara waktu mendukung kepolisian dalam memulihkan ketertiban, membuka kembali akses jalan, dan melindungi penduduk.
Sementara itu, gelombang protes yang telah berlangsung selama lima minggu terakhir dipicu oleh kebijakan penghematan Paz, termasuk penghapusan subsidi bahan bakar dan sejumlah kebijakan ekonomi lainnya. Aksi unjuk rasa tersebut kerap berujung pada bentrokan keras antara demonstran dan aparat kepolisian anti huru-hara.
Pihak berwenang mencatat sebanyak 365 orang telah ditangkap dan 37 lainnya mengalami luka-luka akibat konfrontasi tersebut. Lebih tragis lagi, kantor ombudsman Bolivia bersama sejumlah organisasi hak asasi manusia melaporkan bahwa sedikitnya 17 orang meninggal dunia, sebagian besar disebabkan oleh kurangnya akses terhadap perawatan medis akibat terganggunya transportasi.
Di sisi lain, dampak dari demonstrasi berkepanjangan mulai terasa di berbagai sektor. Banyak bisnis tutup, rak-rak supermarket kosong, dan rumah sakit kehabisan pasokan oksigen. Dalam situasi yang semakin genting ini, sebagian kalangan masyarakat mendesak Paz untuk memulihkan ketertiban di negara itu, termasuk melalui pendekatan yang lebih tegas.
Artikel Terkait
Pramono Anung Resmikan Penataan Jalan Rasuna Said, Potong 109 Tiang Monorel Bekas Era Sutiyoso
Lelang Barang Rampasan KPK Juni 2026: iPhone XS Laku Rp34 Juta, Melonjak 100 Kali Lipat dari Harga Limit
Zlatan Ibrahimovic Prediksi Amerika Serikat Juara Piala Dunia 2026
Kementan Larang Petani Gunakan Paracetamol dan Vitamin B pada Cabai, Peringatkan Risiko Lingkungan dan Pemborosan