NATO Siap Dukung Operasi Eropa Buka Kembali Selat Hormuz Pasca-Kesepakatan AS-Iran

- Kamis, 18 Juni 2026 | 21:00 WIB
NATO Siap Dukung Operasi Eropa Buka Kembali Selat Hormuz Pasca-Kesepakatan AS-Iran

Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Mark Rutte, menyatakan aliansinya siap mendukung upaya yang dipimpin negara-negara Eropa untuk menjamin kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Dukungan ini muncul setelah tercapainya nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Berbicara menjelang pertemuan para menteri pertahanan NATO pada Rabu, 17 Juni 2026, Rutte menegaskan bahwa keterlibatan NATO akan bergantung pada permintaan dari negara-negara yang saat ini mengoordinasikan inisiatif tersebut. “Jika memang diperlukan, tentu kami akan berperan. Namun jika mereka dapat melakukannya tanpa kami, itu juga tidak masalah,” ujar Rutte.

Menurut Rutte, Inggris dan Prancis saat ini memimpin koordinasi upaya internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Ia juga menyebut berbagai persiapan militer telah dilakukan dalam dua bulan terakhir, termasuk penempatan kemampuan khusus seperti radar, teknologi pemantauan, dan operasi pembersihan ranjau di dekat kawasan tersebut.

Rutte menambahkan, para pemimpin negara yang menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis turut membahas kemungkinan pembentukan koalisi luas guna membantu pelaksanaan komitmen dalam kesepakatan Amerika Serikat dan Iran. Menurutnya, diskusi masih berlangsung untuk memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz dapat dipulihkan sepenuhnya.

Sementara itu, Prancis dan Inggris telah berbulan-bulan menyusun koalisi maritim untuk memulihkan kepercayaan pelaku pelayaran. Tujuannya memastikan ribuan kapal yang saat ini menunggu di kawasan Teluk dapat kembali beroperasi dengan aman. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyebut sekitar 20 negara telah memberikan kontribusi nyata terhadap inisiatif tersebut.

Prancis telah menempatkan kapal induk bertenaga nuklir Charles de Gaulle di dekat Semenanjung Arab sejak pertengahan Mei. Inggris mengirim kapal perusak HMS Dragon. Italia menyediakan kapal pemburu ranjau dan Jerman menyatakan kesiapan mengerahkan aset serupa untuk mendukung operasi pembersihan ranjau.

Pejabat Eropa memperkirakan kapal perang koalisi nantinya dapat mengawal sekitar 2.000 kapal tanker dan kapal kargo yang menunggu melintasi Selat Hormuz. Namun, mereka menegaskan pengerahan armada hanya akan dilakukan apabila terdapat keyakinan bahwa kesepakatan Washington dan Teheran benar-benar berjalan efektif.

Menteri Pertahanan Italia, Guido Crosetto, sebelumnya mengingatkan bahwa kapal pembersih ranjau sangat rentan sehingga memerlukan jaminan keamanan sebelum beroperasi. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, juga menyatakan partisipasi negaranya harus mendapat persetujuan parlemen dan dilakukan bersama mitra internasional.

Macron menegaskan operasi yang direncanakan bukanlah intervensi yang sudah dipastikan berlangsung, melainkan tawaran bantuan. “Ini adalah sebuah tawaran, kami siap membantu,” ujarnya di sela-sela KTT G7 di Evian pada Senin, 15 Juni 2026.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menilai kesepakatan dengan Iran kemungkinan sudah cukup untuk menjamin kelancaran pelayaran tanpa kehadiran besar pasukan internasional. Meski demikian, ia mengakui keterlibatan sejumlah negara bukan ide yang buruk mengingat situasi dapat berubah sewaktu-waktu.

Perbedaan pandangan masih muncul terkait masa depan Selat Hormuz. Trump menyebut jalur tersebut akan tetap terbuka tanpa biaya tambahan, sedangkan pejabat Iran mengindikasikan opsi pungutan atau biaya layanan bagi kapal yang melintas masih dipertimbangkan.

Nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari. Dokumen itu juga memberikan masa negosiasi tambahan selama 60 hari untuk mencapai penyelesaian yang lebih luas. Kesepakatan tersebut dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar