BGN Terapkan Moratorium dan Skema Dana Non-APBN untuk Perbaiki Program Makan Bergizi Gratis

- Kamis, 18 Juni 2026 | 08:45 WIB
BGN Terapkan Moratorium dan Skema Dana Non-APBN untuk Perbaiki Program Makan Bergizi Gratis

Di bawah kepemimpinan baru Badan Gizi Nasional (BGN), publik menaruh harapan besar terhadap transformasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar berjalan lebih baik dan tepat sasaran. Sejumlah langkah strategis mulai diterapkan, mulai dari moratorium pembukaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru hingga penataan ulang sistem pembiayaan yang selama ini bergantung penuh pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Salah satu perubahan mendasar adalah kebijakan moratorium yang menghentikan sementara pendirian SPPG baru. Langkah ini dibarengi dengan penataan ulang basis data setiap SPPG dan data penerima manfaat. Pemerintah juga menyiapkan tiga skema pembiayaan alternatif yang berasal dari dana non-APBN, yakni dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), dana hibah, dan dukungan dari pihak swasta. Dengan demikian, beban APBN diharapkan tidak lagi terlalu berat dalam menjalankan program nasional ini.

“Ini adalah langkah-langkah yang dilakukan supaya skema pembiayaan itu tidak memberatkan APBN. Jadi dibukalah salah satu celah atau ruang baru dana yang berasal dari non-APBN,” demikian penjelasan dari pihak BGN.

Sementara itu, moratorium dan penataan ulang juga difokuskan pada prioritas baru, yaitu daerah tertinggal, terluar, dan terpencil (3T). Pelibatan kantin sekolah menjadi salah satu terobosan yang dianggap penting untuk meningkatkan kualitas layanan. Di sisi lain, terjadi penyesuaian terhadap kelompok sasaran penerima manfaat. Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) berpotensi tidak lagi menjadi prioritas utama. Pemerintah akan mengatur ulang kriteria penerima manfaat agar lebih tepat sasaran.

Perubahan signifikan lainnya adalah pergeseran fokus dari target kuantitas menjadi kualitas. Jika sebelumnya tujuan utama adalah membangun banyak titik SPPG untuk menjangkau masyarakat luas, kini perhatian lebih diarahkan pada kualitas makanan yang dibagikan. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap sejumlah permasalahan yang muncul selama proses distribusi makanan di lapangan.

“Kita tahu beberapa kali terjadi sejumlah masalah pada saat pembagian makanan dari program MBG ini. Sekarang akan diperhatikan lebih baik lagi kualitas makanannya. Ini yang jadi prioritas,” ujar sumber dari BGN.

Selain kualitas makanan, aspek sumber daya manusia (SDM) juga menjadi sorotan. BGN tengah mengevaluasi tenaga yang terlibat dalam pelayanan MBG dan mengadakan pelatihan khusus. Ahli gizi dan tenaga profesional lainnya akan dilibatkan secara lebih aktif untuk memastikan standar gizi terpenuhi. Tak hanya itu, dapur-dapur yang tidak memenuhi standar operasional prosedur (SOP) akan didata ulang dan dipastikan tidak lagi beroperasi di titik-titik SPPG ke depannya.

Langkah lain yang tak kalah penting adalah pembentukan Dewan Pengarah Khusus yang terdiri dari profesor ahli gizi, profesor anak, dan dokter anak. Kehadiran para pakar ini dinilai krusial karena program MBG menyasar anak-anak. “Mengapa banyak Profesor Anak dan Dokter Anak yang dilibatkan? Karena program MBG menyasar pada anak-anak, kemudian ahli gizi tentu sangat penting bagaimana dengan asupan gizi yang harus dipenuhi,” demikian penjelasan dari internal BGN.

Dengan serangkaian perubahan ini, publik berharap program Makan Bergizi Gratis dapat bertransformasi menjadi lebih baik, sesuai dengan ekspektasi masyarakat yang menanti manfaat nyata dari program prioritas nasional tersebut.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar