Turki Tawarkan Mediasi di Tengah Eskalasi Serangan Rusia-Ukraina

- Rabu, 17 Juni 2026 | 04:25 WIB
Turki Tawarkan Mediasi di Tengah Eskalasi Serangan Rusia-Ukraina

Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menyuarakan keprihatinan mendalam atas eskalasi serangan terhadap warga sipil di Ukraina yang kian meningkat, seraya menawarkan diri sebagai penengah dalam konflik yang telah berlangsung selama empat tahun tersebut. Dalam kunjungannya ke Rusia, ia menegaskan kesiapan Ankara untuk memediasi Moskow dan Kyiv guna mengakhiri perang yang telah merenggut ratusan ribu jiwa.

“Eskalasi baru-baru ini dalam perang Ukraina dan bahaya perluasan geografisnya merupakan sumber kekhawatiran serius,” ujar Fidan dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov. Ia menyoroti bahwa peningkatan serangan terhadap sasaran di belakang garis depan, serta aksi yang mengancam keselamatan navigasi di Laut Hitam, kini berdampak langsung pada kepentingan pihak ketiga. “Oleh karena itu, beberapa langkah deeskalasi diperlukan,” tegasnya.

Pernyataan itu disampaikan sehari setelah serangan rudal dan drone Rusia menewaskan sedikitnya 11 orang di berbagai wilayah Ukraina. Salah satu serangan bahkan merusak sebuah katedral di pusat Kota Kyiv, menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan dalam konflik ini.

Di sisi lain, Ukraina merespons dengan melancarkan serangan terhadap kilang minyak di pinggiran Moskow. Langkah tersebut dirancang untuk menghantam pendapatan minyak Rusia yang menurut Kyiv menjadi sumber pendanaan utama perang. Serangan balasan ini menandai eskalasi baru dalam strategi pertahanan Ukraina yang mulai menyasar infrastruktur ekonomi musuh.

Turki sendiri telah beberapa kali menjadi tuan rumah bagi perundingan antara delegasi Rusia dan Ukraina. Namun, hingga saat ini, belum ada satu pun putaran pembicaraan yang berhasil menghasilkan terobosan berarti. Sikap keras Presiden Rusia Vladimir Putin yang tetap bertahan pada tuntutan teritorial dan politik garis keras menjadi salah satu batu sandungan utama. Kyiv menilai tuntutan itu tidak lebih dari bentuk penyerahan diri, dan Putin pun berkali-kali menolak permintaan untuk bertemu langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Sementara itu, para sekutu Ukraina baru saja menggelar pertemuan di Prancis dalam rangka KTT G7. Dalam forum tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Moskow untuk “membuat kesepakatan” demi mengakhiri perang. Seruan itu muncul di tengah tekanan internasional yang kian menguat terhadap Rusia.

Konflik ini bermula pada Februari 2022, ketika Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina. Perang tersebut kini menjadi konflik terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II, dengan sebagian besar wilayah timur dan selatan Ukraina hancur lebur. Jutaan orang kehilangan tempat tinggal, dan puluhan ribu warga sipil dilaporkan tewas akibat pertempuran yang tak kunjung mereda.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags