Lima warga negara Indonesia dilaporkan menjadi bagian dari rombongan kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 yang dicegat militer Israel di perairan internasional dekat Siprus, Mediterania Timur, pada Senin (18/05). Sebagian dari mereka berprofesi sebagai jurnalis yang tengah menjalankan tugas peliputan dan misi kemanusiaan.
Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), gerakan solidaritas yang mengorganisir pengiriman bantuan ke Gaza, melaporkan bahwa lima WNI telah ditangkap oleh tentara Israel di Laut Mediterania. Sementara itu, empat WNI lainnya masih dalam pelayaran menuju Gaza. Kementerian Luar Negeri Indonesia langsung bereaksi dengan mengecam keras tindakan tersebut dan menuntut pembebasan segera bagi seluruh awak dan kapal yang ditahan di sekitar perairan Siprus.
Media Republika mengonfirmasi bahwa dua jurnalisnya termasuk dalam kelompok lima WNI yang ditangkap. Media tersebut menilai insiden ini sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Di sisi lain, Tempo juga memastikan bahwa wartawannya menjadi salah satu WNI yang terdampak pencegatan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, sedikitnya sepuluh kapal telah ditangkap oleh tentara Israel, termasuk kapal Josef yang membawa delegasi Indonesia. Pemerintah Indonesia saat ini tengah berkoordinasi dengan KBRI di Ankara, Kairo, dan Amman untuk menyiapkan langkah perlindungan dan percepatan pemulangan para relawan.
Kementerian Luar Negeri menyebut bahwa kapal-kapal yang ditahan antara lain Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys. Dalam kapal Josef, terdapat seorang WNI bernama Andi Angga Prasadewa, yang merupakan delegasi GPCI dan Rumah Zakat. Sementara itu, satu kapal lain yang membawa jurnalis Republika, Bambang Noroyono, hingga kini belum dapat dihubungi.
“Kapal yang membawa jurnalis Bambang Noroyono sampai saat ini masih belum dapat dihubungi dan belum diketahui statusnya,” kata juru bicara Kemlu, Yvonne Mewengkang.
Kemlu menyebut situasi di lapangan masih dinamis dan terus berkembang. Pemerintah Indonesia mendesak agar seluruh kapal dan awak segera dibebaskan. “Kami mendesak pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan,” ujar Yvonne.
Pihaknya telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman untuk menyiapkan langkah antisipatif, termasuk perlindungan dan kemungkinan pemulangan WNI.
Perwakilan media Republika mengonfirmasi bahwa dari sembilan WNI dalam rombongan GSF, dua di antaranya adalah jurnalis mereka, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai. Pimpinan Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, menegaskan keselamatan mereka menjadi perhatian serius.
“Dalam rombongan, terdapat sembilan relawan asal Indonesia, termasuk dua jurnalis Republika yang menjalankan tugas jurnalistik dan kemanusiaan. Keselamatan mereka menjadi perhatian serius kami,” ujarnya.
Republika juga mengecam tindakan intersepsi tersebut. “Tindakan ini pelanggaran serius terhadap hukum internasional, prinsip kemanusiaan universal, serta kebebasan sipil warga dunia yang membawa bantuan bagi rakyat Palestina di Gaza,” kata Andi.
Menurut pernyataan mereka, para relawan tidak membawa senjata, melainkan bantuan kemanusiaan seperti obat-obatan dan logistik untuk warga Gaza.
Salah satu peserta dari Indonesia, Bambang Daryono atau yang akrab disapa Abeng, sempat mengirimkan pesan video sebelum komunikasi terputus. “Saya Bambang Daryono alias Abeng. Saya warga Indonesia. Saya adalah partisipan pelayaran misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2026,” katanya dalam rekaman video.
Ia kemudian meminta pemerintah Indonesia membantu pembebasannya. “Saya mohon agar pemerintah Republik Indonesia membebaskan saya dari penculikan tentara penjajah Zionis Israel dan meminta pemerintah Indonesia agar selalu mendukung kemerdekaan Palestina,” ujarnya.
Sementara itu, wartawan Tempo TV, Andre Prasetyo Nugroho, juga mengirimkan video pesan darurat atau SOS. Setelah sempat tidak dapat dihubungi, Andre mengirimkan video berdurasi 53 detik kepada tim GPCI. Video tersebut merupakan salah satu protokol yang telah disiapkan peserta pelayaran Global Sumud Flotilla.
“Apabila kawan-kawan sudah menonton video ini, tandanya saya telah ditangkap oleh rezim Zionis Israel,” ujar Andre dalam video tersebut.
Dalam pernyataan resminya, GSF menyebut armadanya yang terdiri dari kapal-kapal sipil tengah berlayar untuk membuka jalur bantuan kemanusiaan ke Gaza ketika dikepung oleh kapal perang Israel di perairan internasional, sekitar 250 mil laut dari wilayah tersebut. Mereka menggambarkan situasi ini sebagai kelanjutan dari pola intersepsi sebelumnya terhadap kapal sipil dalam misi serupa.
“Pengepungan militer ini menandai dimulainya kembali agresi ilegal di laut lepas,” tulis mereka dalam pernyataan bertanggal 18 Mei 2026.
GSF menegaskan bahwa seluruh peserta dalam armada tersebut adalah warga sipil tak bersenjata, termasuk tenaga medis, jurnalis, dan relawan. Mereka menyatakan bahwa tindakan intersepsi di perairan internasional melanggar hukum maritim dan prinsip kebebasan navigasi.
Tepat setelah pukul 10:30 waktu Siprus atau 07:30 GMT pada Senin (18/05), siaran langsung video di situs web GSF menunjukkan pasukan komando di atas kapal penyerbu mendekati sebuah kapal layar, kemudian menaikinya saat para penumpang mengangkat tangan mereka.
“Kapal-kapal militer saat ini sedang mencegat armada kami dan pasukan (Israel) menaiki kapal pertama kami di siang bolong,” kata penyelenggara GSF dalam sebuah pernyataan.
“Kami menuntut jalur aman untuk misi kemanusiaan kami yang sah dan non-kekerasan,” tambahnya. “Pemerintah harus bertindak sekarang untuk menghentikan tindakan ilegal atau pembajakan ini yang dimaksudkan untuk mempertahankan pengepungan genosida Israel di Gaza.”
Pada Senin (18/05) sore, pihak penyelenggara mengumumkan bahwa pasukan Israel sejauh ini telah mencegat 16 kapal dalam flotila tersebut. Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Israel telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mengizinkan pelanggaran apa pun terhadap blokadenya di Gaza, yang mereka tegaskan sah secara hukum, dan meminta flotila tersebut untuk berbalik arah.
“Sekali lagi, provokasi demi provokasi: apa yang disebut ‘flotila bantuan kemanusiaan’ lainnya tanpa ada bantuan kemanusiaan,” kata sebuah unggahan di X.
GSF mengatakan para aktivis di atas kapal membawa makanan, susu formula bayi, dan bantuan medis untuk warga Palestina di Gaza. Kondisi kehidupan di sana sangat memprihatinkan, dengan sebagian besar dari 2,1 juta penduduknya mengungsi meskipun ada gencatan senjata yang disepakati oleh Israel dan Hamas pada Oktober lalu.
Kementerian Luar Negeri Israel menyebut Gaza sebagai wilayah yang “dibanjiri bantuan”, dengan mengatakan lebih dari 1,5 juta ton bantuan dan ribuan ton pasokan medis telah memasuki wilayah tersebut selama tujuh bulan terakhir. Namun, PBB mengatakan minggu lalu bahwa banyak keluarga yang mengungsi di Gaza masih terpaksa berlindung di tenda-tenda yang terlalu padat atau struktur bangunan yang rusak parah.
Akses ke layanan dasar tetap terbatas, dengan ketersediaan air bersih yang tidak konsisten dan sistem pengelolaan limbah yang terganggu. PBB juga mengatakan operasi kemanusiaan terus dirongrong oleh pembatasan impor suku cadang penting, generator cadangan, dan peralatan lainnya, serta kekurangan pasokan penting, termasuk bahan bakar dan oli mesin.
Editor: Melati Kusuma
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Investor China dan Hong Kong Dilarang Ikut IPO SpaceX, Alihkan Buruan ke Saham Terkait
Ekonom: RI Tak Akan Ulangi Krisis 1998, Tantangan Kini Bergeser ke Daya Beli Kelas Menengah
Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Green 95 per 10 Juni 2026
The Super Mario Galaxy Movie Tembus Satu Miliar Dolar AS di Box Office Global