"Pada dasarnya kami ingin menyiapkan material maju atau advanced materials yang nanti akan diperlukan untuk industri baterai," ujar Aditya. Targetnya jelas: mewujudkan hilirisasi mineral dan mendongkrak peran Indonesia di peta industri baterai global.
Di sisi lain, kondisi ini justru memantik tanda tanya dari anggota dewan. Ketua Komisi XII DPR, Bambang Patijaya, mengaku heran. Baginya, dengan struktur kepemilikan yang ada, seharusnya IBC punya pengendali yang jelas.
Bambang berpendapat, peran MIND ID sebagai pemegang saham utama semestinya lebih dominan. Keberadaan pengendali, menurutnya, krusial untuk memastikan arah dan kelincahan perusahaan dalam menjalankan rencana bisnisnya.
"Untuk men-direct biar lebih lincah IBC, ya harusnya MIND ID ini mengkoordinasi ini sebagai saham pengendali," tutur Bambang.
Ia berharap, dengan adanya kepastian soal pengendali, investasi dan pengembangan teknologi baterai di dalam negeri bisa benar-benar terakselerasi. Tanpa itu, langkah perusahaan bisa terasa berat.
Jadi, meski diisi oleh BUMN-BUMN besar, IBC masih berjalan tanpa nahkoda tunggal. Situasi ini tentu menarik untuk diikuti perkembangannya ke depan.
Artikel Terkait
Bos IBC Minta DPR Dorong Regulasi dan Insentif untuk Genjot Industri Baterai Nasional
Ibu Habib Bahar Laporkan Istri Korban ke Polisi, Sebut Kesaksiannya Mustahil
Satgas PKH Bergerak Usut Aliran Dana Rp992 Triliun dari Tambang Emas Ilegal
OJK dan ADB Pacu Obligasi Hijau ASEAN+3 di Yogyakarta