Namun begitu, ada hal yang lebih penting dari sekadar mengisi kekosongan. Prasetyo mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto punya arahan khusus. Momentum ini harus jadi titik balik. Bukan cuma untuk mengatasi kekosongan, tapi untuk membenahi regulasi pasar modal secara lebih menyeluruh. Visinya, bursa saham Indonesia harus tangguh di dalam negeri dan sanggup bersaing di panggung global.
“Sesuai dengan petunjuk Bapak Presiden kemudian diambil keputusan untuk kita mereformasi diri, memperbaiki diri supaya pasar saham kita menjadi lebih terbuka, lebih transparan, kredibel. Dengan harapan ini akan memiliki kelas setara dengan pasar-pasar bursa lain di dunia,”
Jadi, narasinya bergeser. Dari sekadar respons administratif, menjadi sebuah komitmen reformasi. Pemerintah sepertinya ingin memastikan bahwa gejolak kepemimpinan di OJK justru melahirkan terobosan, bukan sekadar jadi berita usang yang terlupakan. Langkah selanjutnya? Kita tunggu realisasinya.
Artikel Terkait
Nasib Petani Tertekan, Nelayan Tersenyum di Awal 2026
Prabowo Beri Sinyal Keras: Siap-Siap Dipanggil Kejaksaan
Denada Akui Ressa sebagai Anak Kandung, Minta Maaf Setelah 24 Tahun
Prabowo Tegaskan Nonblok, Tapi Ingatkan: Tak Ada yang Akan Bantu Kita