Mentan Amran Peringatkan Ancaman Banjir Awal 2026, Produksi Pangan Nasional Dipertaruhkan

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:35 WIB
Mentan Amran Peringatkan Ancaman Banjir Awal 2026, Produksi Pangan Nasional Dipertaruhkan

Musim hujan di awal 2026 bakal jadi ujian serius. Kementerian Pertanian sudah angkat bicara, mengingatkan semua pihak pemerintah daerah hingga petani untuk bersiap-siap. Ancaman banjir mengintai, dan ini bukan hal sepele kalau kita ingin produksi pangan nasional tetap aman.

Mentan Amran Sulaiman tegas. Menurutnya, antisipasi dini adalah kunci, terutama di daerah-daerah sentra produksi yang rawan terendam. "Kita tidak boleh menunggu bencana datang baru bergerak," ujarnya.

"Antisipasi harus dilakukan dari sekarang, mulai dari perencanaan tanam hingga kesiapan sarana pendukung di lapangan."

Dia mendesak jajaran di daerah untuk memaksimalkan luas tanam pada Musim Tanam I tahun depan. Tak cuma itu, kesiapan alat, mesin pertanian, dan pengendalian hama juga harus dipastikan berjalan optimal. "Produksi pangan tidak boleh terganggu," tegas Amran.

Lalu, bagaimana kondisi cuacanya? Data BMKG untuk Januari 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah masih dalam fase hujan dengan intensitas merata. Sekitar 76,69 persen wilayah bakal diguyur hujan kategori menengah. Namun, ada pula sekitar 21,43 persen yang diprediksi mengalami hujan tinggi, bahkan 1,22 persen masuk kategori sangat tinggi. Hanya sedikit wilayah, sekitar 0,65 persen, yang curah hujannya rendah.

"Kondisi ini menunjukkan potensi genangan dan banjir perlu diwaspadai," kata Mentan, terutama di tempat yang sistem drainasenya kurang bagus.

Memasuki Februari, pola hujan diprediksi berubah. Mayoritas wilayah, tepatnya 82,21 persen, masih akan mengalami hujan menengah. Tapi, wilayah dengan curah hujan rendah meningkat jadi 16,25 persen. Sementara itu, area dengan hujan tinggi dan sangat tinggi menurun signifikan.

Perubahan ini, kata Amran, harus dibaca dengan saksama. "Penurunan hujan di beberapa wilayah bukan berarti aman sepenuhnya. Petani tetap harus adaptif," jelasnya.

Di daerah yang masih sering diguyur hujan, saluran drainase yang lancar adalah keharusan mutlak. Sementara di wilayah yang mulai kering, pengaturan jadwal tanam dan efisiensi air jadi penentu. "Manajemen air menjadi sangat penting," imbuhnya.

Di lapangan, langkah konkret juga digodok. Dirjen Tanaman Pangan, Yudi Sastro, menyarankan pemilihan varietas yang tepat untuk tiap kondisi. "Kami mengimbau petani di wilayah rawan banjir menggunakan varietas padi toleran genangan seperti Inpara dan Inpari," kata Yudi.

"Ini penting untuk menekan risiko puso akibat banjir."

Penyesuaian jadwal tanam berdasarkan prakiraan cuaca juga wajib. Normalisasi saluran air pun harus jadi perhatian bersama agar luapan tidak merusak lahan. "Kita ingin memastikan air terkendali, bukan justru merusak tanaman," ujarnya.

Sebagai bentuk keseriusan, sejak September 2025 lalu, Ditjen Tanaman Pangan sudah mengeluarkan surat peringatan dini. Isinya beragam, mulai dari kesiapan sarana produksi, alat mesin pertanian, hingga strategi menghadapi perubahan iklim. Koordinasi dengan petugas lapangan dan pemantauan informasi BMKG juga ditekankan.

Harapannya jelas. Semua langkah ini bisa menjaga stabilitas produksi, mengejar target beras 34,77 juta ton, sekaligus melindungi petani dari gagal panen. "Target produksi harus tercapai, petani juga harus terlindungi. Itu komitmen kami," tutup Mentan Amran.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler