Musim hujan di awal 2026 bakal jadi ujian serius. Kementerian Pertanian sudah angkat bicara, mengingatkan semua pihak pemerintah daerah hingga petani untuk bersiap-siap. Ancaman banjir mengintai, dan ini bukan hal sepele kalau kita ingin produksi pangan nasional tetap aman.
Mentan Amran Sulaiman tegas. Menurutnya, antisipasi dini adalah kunci, terutama di daerah-daerah sentra produksi yang rawan terendam. "Kita tidak boleh menunggu bencana datang baru bergerak," ujarnya.
"Antisipasi harus dilakukan dari sekarang, mulai dari perencanaan tanam hingga kesiapan sarana pendukung di lapangan."
Dia mendesak jajaran di daerah untuk memaksimalkan luas tanam pada Musim Tanam I tahun depan. Tak cuma itu, kesiapan alat, mesin pertanian, dan pengendalian hama juga harus dipastikan berjalan optimal. "Produksi pangan tidak boleh terganggu," tegas Amran.
Lalu, bagaimana kondisi cuacanya? Data BMKG untuk Januari 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah masih dalam fase hujan dengan intensitas merata. Sekitar 76,69 persen wilayah bakal diguyur hujan kategori menengah. Namun, ada pula sekitar 21,43 persen yang diprediksi mengalami hujan tinggi, bahkan 1,22 persen masuk kategori sangat tinggi. Hanya sedikit wilayah, sekitar 0,65 persen, yang curah hujannya rendah.
"Kondisi ini menunjukkan potensi genangan dan banjir perlu diwaspadai," kata Mentan, terutama di tempat yang sistem drainasenya kurang bagus.
Memasuki Februari, pola hujan diprediksi berubah. Mayoritas wilayah, tepatnya 82,21 persen, masih akan mengalami hujan menengah. Tapi, wilayah dengan curah hujan rendah meningkat jadi 16,25 persen. Sementara itu, area dengan hujan tinggi dan sangat tinggi menurun signifikan.
Artikel Terkait
Warga Serpong Pilih Gowes ke Palembang untuk Mudik Lebaran
Nvidia Kembali Produksi Chip H200 untuk Pasar China Setelah Dapat Izin Ekspor AS
Lalu Lintas Tol Cipali Melonjak 97% Usai Penerapan Sistem Satu Arah
Bank Raya Siapkan Layanan 24 Jam dan Tarik Tunai Tanpa Kartu untuk Libur Panjang 2026