Pemerintah tampaknya sudah mantap dengan langkahnya. Airlangga Hartarto, sang Menko Perekonomian, dengan tegas menyatakan tidak akan ada lagi stimulus tambahan untuk kendaraan listrik atau BEV di tahun depan. Alasannya sederhana: target insentif yang selama ini diberikan dinilai sudah tercapai.
Menurutnya, angka penjualan yang terus merangkak naik dari tahun ke tahun membuktikan hal itu. Tak cuma itu, kebijakan insentif itu juga berhasil memancing produsen untuk betah-betah berinvestasi dan membangun pabrik di dalam negeri. "Justru dengan (insentif) berhenti, stimulus itu diberikan supaya mereka bangun pabrik," ujar Airlangga.
Ia menambahkan, "Sekarang setelah mereka bangun pabrik, maka struktur biaya masuknya lebih rendah." Pernyataan itu disampaikannya di sela-sela peresmian pabrik VinFast di Subang, Jawa Barat, pekan lalu.
Ada beberapa hal yang membuatnya yakin. Harga mobil listrik baru, misalnya, belakangan ini sudah jauh lebih terjangkau. Ragam model bisnis yang ditawarkan pabrikan juga disebutnya turut mendongkrak penjualan.
"Makanya kan ada mobil yang harganya Rp 152 juta. Sebelum kebijakan ini, enggak ada mobil yang harganya di bawah Rp 200 juta," jelas Airlangga.
"Jadi dengan ini, apalagi bisnis modelnya juga belum pernah dilakukan, di mana pembeli itu tidak beli baterai, tapi sewa baterai," tambahnya.
Artikel Terkait
DLH Buka Suara Soal Keluhan Bau dari RDF Plant Rorotan
Capgemini Lepas Anak Usaha AS Usai Ditekan Parlemen Prancis Soal Kontrak ICE
Interpol Indonesia Ungkap Tim Sudah Bergerak ke Negara Persembunyian Riza Chalid
Persija Jakarta Di Ambang Rekrut Penyerang Muda Belanda, Mauro Zijlstra