Lestari Moerdijat, atau yang akrab disapa Rerie, punya nada tegas saat berbicara. Wakil Ketua MPR RI ini tak ragu menyebut kekerasan terhadap perempuan sebagai ancaman serius bagi masa depan bangsa. Pernyataannya itu ia sampaikan dalam sebuah forum daring, Kelas Ketigabelas Feminisme Pancasila yang diadakan Akademi Perempuan NasDem, yang mengangkat tema seputar kekerasan seksual dan kampanye 16 Hari Anti Kekerasan.
“Tindak kekerasan terhadap perempuan bukan semata masalah rumah tangga,” tegas Rerie dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (6/12/2025).
“Lebih dari itu, dia adalah pelanggaran nilai-nilai kehidupan dan Pancasila, serta ancaman bagi masa depan bangsa.”
Menurutnya, bangsa ini sudah tak boleh lagi memberi toleransi pada aksi kekerasan atau berkompromi dengan budaya patriarki yang mengakar. Butuh kerja keras, bahkan luar biasa, untuk mengikis habis persoalan ini di tanah air.
Di sisi lain, Rerie melihat bangsa Indonesia sebenarnya punya pondasi yang kuat. Empat Konsensus Kebangsaan, ia nilai, bisa jadi basis moral untuk mewujudkan gerakan antikekerasan yang nyata. Ia juga menyoroti Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Bagi Rerie, UU itu adalah sebuah tonggak, sebuah reformasi sosial yang mempertegas sikap bangsa melawan ketidakadilan.
Regulasi untuk melindungi warga, sebenarnya, sudah ada. Persoalannya kini terletak pada konsistensi. “Yang harus ada adalah kehadiran negara yang konsisten untuk mewujudkan keadilan bagi setiap warga negara,” ujarnya.
Karena itu, ajakannya jelas. Rerie mengajak seluruh elemen, baik masyarakat maupun negara, untuk turun tangan sesuai kapasitas masing-masing. Tujuannya satu: bersama-sama menghapuskan kekerasan dari negeri ini.
Bayangkan saja. Lingkungan yang aman, bebas dari kekerasan, akan tercipta bila semua bergerak. Dan itu adalah hak setiap warga, tak terkecuali perempuan.
“Bila perempuan aman dan terlindungi,” pungkas Rerie, “akan menghadirkan perempuan kuat yang aktif membangun dan mampu melahirkan generasi penerus bangsa yang tangguh di masa datang.”
Pesan terakhirnya itu sederhana, namun punya gaung yang dalam. Melindungi perempuan hari ini, pada dasarnya, adalah investasi untuk ketangguhan bangsa di masa depan.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi