Bakar Batu Warnai Persiapan Natal, Panglima Pastikan Papua Kondusif

- Rabu, 17 Desember 2025 | 23:55 WIB
Bakar Batu Warnai Persiapan Natal, Panglima Pastikan Papua Kondusif

JAKARTA – Menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, situasi keamanan di Papua dipastikan aman. Pernyataan itu datang langsung dari Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III, Letjen TNI Bambang Trisnohadi. Ia menilai kondisi di wilayahnya sudah kondusif.

Bagaimana gambaran kondusif itu? Salah satunya terlihat dari kehidupan sosial yang berjalan harmonis. Di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, masyarakat justru sibuk dengan tradisi bakar batu untuk menyambut Natal. Acara itu dihadiri Bambang pada Rabu (17/12/2025).

"Saya menghadiri undangan tradisi bakar batu dari saudara-saudara kita, masyarakat Distrik Hitadipa, yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Natal 2025," ujar Bambang.

Suasana saat itu terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Kehadiran Kepala Distrik Sulaeman Bilambani, ditambah para tokoh agama, adat, dan ratusan warga, benar-benar menciptakan nuansa kebersamaan yang kental.

Bagi Bambang, tradisi ini punya filosofi yang dalam. Ia melihatnya sebagai cermin karakter masyarakat pegunungan Papua: sederhana, tulus, dan sangat menjunjung kebersamaan. Batu panas yang dibakar itu melambangkan kehangatan hati, sementara makanan yang disantap bersama adalah simbol persatuan.

“Setiap batu panas yang ditata, daun pisang yang disusun, hingga makanan yang dibagikan, mengandung pesan kemanusiaan yang sangat kuat. Bahwa dalam kebersamaan dan saling berbagi, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Yang ada hanyalah persaudaraan, satu tanah, satu semangat, semangat persatuan dan cinta NKRI,” jelasnya.

Usai doa yang dipimpin Pendeta Yonathan Sani, acara berlanjut dengan penyerahan bantuan. Pangkogabwilhan III beserta jajarannya menyerahkan paket sembako untuk ratusan warga Hitadipa.

Tak cuma sembako. Ada juga layanan kesehatan gratis yang digelar. Anak-anak pun tak dilupakan; mereka mendapat bingkisan berisi camilan dan mainan. Bambang sendiri tampak menyaksikan langsung proses pembongkaran liang masak bakar batu sebelum akhirnya makan bersama warga.

Untuk pesta rakyat itu, persiapannya tidak main-main. Tercatat tujuh ekor babi, 200 ekor ayam, delapan karung umbi-umbian, dan delapan karung sayuran disiapkan. Memang, bakar batu bagi masyarakat Papua adalah simbol rasa syukur dan alat perekat silaturahmi yang ampuh.

“Tradisi bakar batu bukan sekadar warisan budaya, melainkan pelajaran hidup tentang arti bersyukur, saling menghargai, dan menjaga keharmonisan dengan sesama serta alam. Sebuah warisan yang tidak akan pernah pudar, sehangat batu yang menyinari cinta di setiap hati saudara-saudara kita di Papua,” pungkas Bambang menutup keterangannya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler