imbuhnya.
Sebenarnya, banyak sekali pilihan diksi yang lebih tepat untuk menyampaikan pendapat di ruang publik. Bahasa yang digunakan, lanjutnya, semestinya memberi semangat, bukan malah melukai atau menggurui. “Masyarakat, pejabat, dan publik figur saat ini perlu mencontoh teladan dari para ulama,” tutur KH Ikhsan.
Lantas, apa yang sebenarnya diucapkan Dahnil? Dalam sebuah forum, ia menanggapi kekhawatiran Anwar Abbas dengan menyebut “cangkemnya” dan menyatakan sang kiai dinilai tidak paham persoalan haji. Reaksi pun berdatangan. Banyak yang kecewa karena respons itu dianggap tidak menjawab substansi kritik sama sekali.
Padahal, inti peringatan Anwar Abbas cukup jelas: menyerahkan layanan haji untuk ratusan ribu jemaah hanya pada dua perusahaan berisiko. Tujuannya agar kualitas layanan bisa lebih terjaga dan risiko diminimalisir.
Alih-alih memberi penjelasan yang runut, tanggapan Dahnil justru dinilai sarkastik dan negatif. Tak heran, hal itu memicu kecaman dari berbagai tokoh, terutama dari organisasi keagamaan.
Hingga saat ini, belum ada klarifikasi resmi dari Dahnil Anzar Simanjuntak mengenai kritik yang mengarah padanya. Pemerintah juga masih belum memberikan sikap resmi atas polemik yang terus bergulir ini.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir