Polisi Ungkap Penyebab Kematian Dokter PPDS di Siak, Tidak Ada Unsur Pidana

- Kamis, 06 Agustus 2026 | 08:26 WIB
Polisi Ungkap Penyebab Kematian Dokter PPDS di Siak, Tidak Ada Unsur Pidana

Misteri kematian dr Alex Cristo Loris, dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), akhirnya terungkap. Setelah penyelidikan selama hampir tiga pekan, Satreskrim Polres Siak menyimpulkan tidak ada unsur tindak pidana pembunuhan dalam peristiwa tersebut.

Penyelidikan yang melibatkan autopsi, laboratorium forensik, digital forensik, psikologi forensik, rekaman CCTV, dan pemeriksaan 14 saksi mengarah pada kesimpulan bahwa kematian korban disebabkan oleh perbuatannya sendiri.

Korban ditemukan meninggal dunia di semak belukar sekitar lima meter dari pagar luar RSUD Tengku Rafian Siak pada Selasa (14/7/2026) sekitar pukul 11.30 WIB. Saat olah tempat kejadian perkara, polisi menemukan tas milik korban berisi perlengkapan medis, antara lain stetoskop, obat anestesi Propofol, ampul Lidocaine, spuit berisi Fentanyl Citrate dan Rocuronium Bromide, serta sejumlah jarum suntik.

Rekaman CCTV dari dua lokasi berbeda menunjukkan korban berjalan seorang diri menuju lokasi pada malam sebelum ditemukan meninggal. Tidak ada orang lain yang mendampingi korban.

Kapolres Siak AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar mengatakan seluruh hasil penyelidikan mengarah pada kesimpulan bahwa penyebab kematian berasal dari perbuatan korban sendiri.

"Berdasarkan seluruh alat bukti, keterangan saksi, hasil autopsi, pemeriksaan laboratorium forensik, digital forensik, dan psikologi forensik, tidak ditemukan fakta yang mengarah pada tindak pidana pembunuhan. Penyebab kematian korban disimpulkan akibat perbuatannya sendiri," ujar AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar, Selasa (4/8/2026).

Hasil Autopsi dan Temuan Forensik

Hasil autopsi menemukan bekas suntikan pada punggung tangan kiri korban yang diduga menjadi jalur masuk obat Rocuronium ke dalam tubuh. Pemeriksaan toksikologi mendeteksi kandungan Rocuronium pada sampel darah, urine, dan ginjal korban. Ahli forensik menyimpulkan zat tersebut menyebabkan kelumpuhan otot pernapasan hingga korban mengalami asfiksia atau mati lemas.

Memar di kepala dipastikan bukan penyebab kematian, sedangkan luka lain pada tubuh muncul setelah korban meninggal akibat aktivitas serangga. Temuan ini diperkuat hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik Polda Riau yang menyatakan bercak darah pada jarum suntik identik dengan DNA korban.

Tekanan Psikologis dan Pesan Terakhir

Dalam proses digital forensik, penyidik menemukan sebuah pesan yang belum sempat terkirim kepada istri korban. "Maaf sayang, aku udah enggak tertolong lagi." Selain pesan tersebut, polisi juga menemukan riwayat keluhan mengenai utang pinjaman online, indikasi penggunaan uang dalam jumlah besar untuk suatu kegiatan, serta sejumlah catatan pribadi yang masih terkunci di dalam perangkat.

Kasatreskrim Polres Siak AKBP Raja Kosmos Parmulais mengatakan hasil psikologi forensik menunjukkan korban diduga mengalami tekanan psikologis akibat akumulasi berbagai persoalan. Tekanan tersebut meliputi masalah keuangan, tanggung jawab terhadap keluarga, serta beban menjalani pendidikan sebagai peserta PPDS Anestesi. Sebagai peserta PPDS Anestesi, korban juga memiliki pengetahuan dan akses terhadap obat-obatan anestesi yang diduga digunakan dalam peristiwa tersebut.

Polres Siak mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi serta menghormati privasi keluarga yang masih berduka.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags