Dedi Mulyadi Klarifikasi Sayembara Tangkap Begal: Warga Diminta Tak Main Hakim Sendiri

- Selasa, 28 Juli 2026 | 19:00 WIB
Dedi Mulyadi Klarifikasi Sayembara Tangkap Begal: Warga Diminta Tak Main Hakim Sendiri

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa program sayembara bagi masyarakat yang membantu menangkap pelaku kejahatan tidak dimaksudkan untuk mendorong tindakan main hakim sendiri. Ia menjelaskan, program tersebut bertujuan menumbuhkan keberanian warga dalam menghadapi tindak kriminal sekaligus mengajak masyarakat untuk menyerahkan pelaku yang berhasil diamankan kepada aparat penegak hukum.

Pernyataan itu disampaikan Dedi setelah mengunjungi Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Purwakarta pada Senin (27/7/2026). Menurutnya, sejak sayembara diumumkan, mulai terlihat perubahan sikap di kalangan masyarakat. Warga kini semakin percaya diri menjalankan aktivitas sehari-hari karena rasa takut terhadap aksi kejahatan mulai berkurang.

"Semenjak sayembara diumumkan, warga jadi lebih berani keluar rumah. Bahkan ada yang bercanda, nongkrong malam-malam siapa tahu bisa menangkap begal. Ini menunjukkan keberanian masyarakat mulai tumbuh," ujar pria yang akrab dipanggil Kang Dedi Mulyadi itu kepada wartawan di Mapolres Purwakarta.

Dedi juga memberikan apresiasi kepada jajaran kepolisian di Jawa Barat yang dinilainya semakin gencar dalam mengungkap berbagai tindak kriminal. Ia menyebut keberhasilan aparat membongkar jaringan pelaku begal di Sumedang dan Kota Bandung sebagai bukti nyata kuatnya kolaborasi antara masyarakat dengan kepolisian dalam memberantas kejahatan.

"Kinerja Polda Jawa Barat dan seluruh Polres saat ini sangat luar biasa. Berbagai jaringan pelaku kejahatan mulai berhasil diungkap," katanya.

Menurut Dedi, masyarakat tidak seharusnya terus dibayangi rasa takut akibat ulah segelintir pelaku kriminal. Dengan jumlah penduduk Jawa Barat yang mencapai puluhan juta orang, ia menilai justru para pelaku kejahatan yang semestinya merasa gentar menghadapi masyarakat yang kompak dalam melawan aksi kriminalitas.

"Kita ini puluhan juta penduduk. Masa psikologi masyarakat harus terganggu hanya oleh ratusan pelaku kejahatan. Jangan sampai jutaan orang takut kepada segelintir pelaku. Justru mereka yang harus takut kepada masyarakat yang bersatu melawan kejahatan," ujarnya.

Lebih lanjut, Dedi menerangkan bahwa program sayembara tersebut juga dibuat untuk mencegah terjadinya tindakan main hakim sendiri di tengah masyarakat. Menurutnya, selama ini pelaku pencurian sering kali menjadi sasaran kemarahan warga karena emosi setelah mengalami kerugian akibat tindak kriminal. Melalui program itu, masyarakat diminta untuk tidak mengambil tindakan sendiri. Warga cukup mengamankan pelaku dan segera menyerahkannya kepada pihak kepolisian agar proses hukum dapat berjalan sesuai aturan yang berlaku.

"Kalau pelaku berhasil ditangkap dan diserahkan ke polisi, ada penghargaan. Jadi tidak perlu dipukuli atau dihakimi. Tujuan sayembara justru untuk mencegah terjadinya main hakim sendiri," ujarnya.

Dedi mengungkapkan, dirinya telah beberapa kali menemukan kasus pelaku kejahatan yang meninggal dunia akibat menjadi korban amukan massa. Beberapa di antaranya terjadi dalam kasus pencurian kendaraan bermotor di Subang, pencurian ternak di Banten, hingga pencurian hasil pertanian di Cianjur. Ia bahkan sempat memberikan bantuan kepada keluarga pelaku sebagai wujud kepedulian terhadap sisi kemanusiaan.

"Selama ini tanpa sayembara pun aksi main hakim sendiri sudah sering terjadi. Dengan adanya sayembara, masyarakat cukup menangkap pelaku, serahkan kepada polisi, dan biarkan proses hukum berjalan. Itu justru cara terbaik untuk mencegah kekerasan," ujar Dedi.

Sebelumnya, Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus menjalin koordinasi dengan aparat kepolisian untuk menangani maraknya aksi kriminal tersebut. "Siaga menghadapi begal. Kami terus berkoordinasi dengan jajaran kepolisian khususnya Polda Jabar dan Polda Metro Jabar untuk siaga menghadapi berbagai aksi kejahatan di Jawa Barat," ungkap Dedi Mulyadi.

Mantan Anggota DPR RI itu juga menjabarkan beberapa hal yang bisa dilakukan dalam mengantisipasi tindak kejahatan, mulai dari patroli hingga siskamling. "Pertama, mobil patroli harus siaga dalam setiap malam, lampu tanda bahayanya harus terus menyala. Satpol PP, Damkar, siaga di titik-titik strategis untuk mengantisipasi segala kemungkinan dalam setiap waktu," ujar Dedi Mulyadi.

"Warga bersiskamling, jaga diri, dan dijaga diri. Ini adalah prinsip dasar kita hidup bergotong-royong," tuturnya.

Selain itu, Dedi Mulyadi juga mengadakan sayembara bagi warga Jawa Barat yang bisa melumpuhkan para pelaku kejahatan dengan hadiah mencapai Rp50 juta. "Bagi yang bisa melumpuhkan maling, copet, jambret, begal, hingga rampok, kami siapkan hadiah dari Rp5 juta sampai Rp50 juta. (Untuk warga) yang mampu melumpuhkan berbagai aksi kejahatan dan menyerahkannya ke kepolisian dalam keadaan hidup," katanya.

Dedi Mulyadi pun mengajak warganya untuk bersama-sama melawan berbagai aksi kejahatan yang terjadi di Jawa Barat. "Terima kasih, mari kita bersama waspada, berani, kita lawan berbagai aksi kejahatan di Jawa Barat," tandasnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags