Kontroversi Rencana Investasi FIFA, Tiga Jalur yang Bisa Menggulingkan Gianni Infantino

- Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:20 WIB
Kontroversi Rencana Investasi FIFA, Tiga Jalur yang Bisa Menggulingkan Gianni Infantino

Rencana investasi yang digagas Presiden FIFA Gianni Infantino menuai penolakan luas dari federasi sepak bola dunia. Skema yang dikenal dengan nama FIFA Forward Enterprise (FFE) itu bahkan memicu ancaman boikot Piala Dunia dan desakan agar Infantino mundur dari kursi kepemimpinannya.

Kontroversi bermula ketika Infantino mengungkapkan rencana mengundang pihak ketiga untuk memberikan investasi minoritas dan nonpengendali di FFE. FIFA disebut berupaya menghimpun investasi senilai 20 miliar dolar AS melalui skema tersebut. Thrive Capital, perusahaan investasi asal Amerika Serikat yang dimiliki menantu Donald Trump, Joshua Kushner, menjadi kandidat utama untuk memimpin kelompok investor.

Seluruh 211 asosiasi anggota FIFA diberi batas waktu hingga 19 September untuk mendukung proposal tersebut. Federasi yang menyetujui rencana itu berpotensi mendapatkan dana hingga 30,1 juta poundsterling. Namun, alih-alih mendapat dukungan, rencana itu justru memicu gelombang penolakan.

UEFA mengeluarkan pernyataan keras pada Kamis (30/7) dan mengancam memboikot Piala Dunia jika rencana tersebut dijalankan. Sikap serupa kemudian diambil Concacaf dan AFC. Tekanan semakin besar setelah penasihat senior Infantino, Carlos Codeiro, mengundurkan diri. Dalam pernyataannya, Codeiro menyebut proposal tersebut sebagai "kesepakatan yang buruk bagi sepak bola". Chief Operating Officer FIFA, Kevin Lamour, juga mengancam mundur setelah merasa "ditipu" oleh Infantino.

Tekanan global akhirnya membuat Infantino membatalkan rencana tersebut pada dini hari Sabtu (1/8). Namun, pembatalan itu tidak serta-merta mengakhiri kontroversi. UEFA menjadi salah satu badan sepak bola pertama yang merespons dengan menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Infantino serta menyebut skema itu sebagai "kesepakatan buruk di balik layar". Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) bahkan meminta dilakukan "peninjauan penuh terhadap kepemimpinan FIFA" melalui pernyataan di X. Desakan agar Infantino meninggalkan kursi Presiden FIFA pun semakin kuat.

Tiga Jalur yang Bisa Menggulingkan Infantino

Mantan Ketua FA David Bernstein menilai Infantino masih memiliki peluang mempertahankan jabatannya selama dia tetap mendapat dukungan dari asosiasi-asosiasi anggota FIFA. "Dalam organisasi normal, jika dia harus mundur karena sesuatu sebesar ini, dia mungkin akan diminta meninggalkan jabatannya," kata Bernstein. "Tetapi FIFA bukan organisasi normal. Jika dia mendapat dukungan dari cukup banyak asosiasi nasional, dia akan terus menjabat," lanjutnya.

Meski demikian, koresponden olahraga Sky News, Rob Harris, menyebut langkah untuk memaksa Infantino meninggalkan jabatannya mulai "semakin cepat". Ada tiga jalur yang dapat membuat pria berusia 56 tahun itu kehilangan kursi Presiden FIFA.

Pertama, melalui mosi tidak percaya. Statuta FIFA memungkinkan 20 persen anggota FIFA, atau 43 negara, menggelar Kongres FIFA darurat. Kongres tersebut harus dilaksanakan dalam waktu tiga bulan. Dalam kongres itu, para anggota dapat meminta pemungutan suara untuk mencopot presiden dimasukkan ke dalam agenda. Jika dukungan terhadap Infantino runtuh, jalur tersebut dapat menjadi ancaman serius bagi masa kepemimpinannya.

Kedua, melalui pemberhentian secara eksekutif. Komite Etik FIFA memiliki kewenangan melakukan penyelidikan jika presiden diduga melanggar kode etik. Penyelidikan dapat dimulai berdasarkan pengaduan resmi dari anggota atau pejabat. Jika ditemukan pelanggaran, komite tersebut dapat menjatuhkan sanksi, termasuk larangan jangka panjang dari aktivitas sepak bola. Namun, jalur ini dinilai memiliki kemungkinan lebih kecil karena belum terlihat adanya pelanggaran etika yang jelas dalam kontroversi FFE.

Ketiga, melalui kekalahan dalam pemilihan. Infantino dijadwalkan menghadapi pemilihan kembali pada Maret mendatang. Salah satu cara paling langsung untuk mengakhiri masa jabatannya adalah Kongres FIFA memilih kandidat lain. Artinya, meski Infantino berhasil melewati tekanan akibat kontroversi FFE, dukungan dari asosiasi anggota tetap menjadi faktor penting ketika pemilihan presiden berlangsung.

Kontroversi FFE sendiri telah membuat posisi Infantino mendapat sorotan dari berbagai pihak. Ancaman boikot Piala Dunia, pengunduran diri pejabat FIFA, pernyataan keras UEFA, hingga tuntutan evaluasi kepemimpinan dari FA memperbesar tekanan terhadap presiden yang sudah memimpin FIFA selama hampir satu dekade. Masa depan Infantino kini bergantung pada kekuatan dukungan politik di antara 211 asosiasi anggota FIFA. Jika dukungan tersebut tetap solid, dia masih memiliki jalan untuk bertahan. Namun, jika dukungan mulai terpecah, tiga mekanisme tersebut dapat menjadi jalan menuju berakhirnya masa kepemimpinannya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags