Mantan pelatih Persib Bandung, Robert Rene Alberts, akhirnya angkat bicara terkait sengketa administratif penunggakan gaji yang berujung pada sanksi larangan mendaftarkan pemain dari FIFA. Dalam klarifikasi terbuka pada Rabu (12/8/2026), pelatih asal Belanda itu membantah berbagai tuduhan yang dinilainya tidak berdasar dan menyeret nama baiknya serta keluarganya.
Sengketa ini bermula dari kesepakatan pengunduran diri Robert pada 2022, padahal kontraknya masih berlaku hingga Mei 2025. Setelah manajemen klub berganti, tercapai kompromi penjadwalan ulang pembayaran pada Januari 2025, tetapi kemudian memicu sanksi FIFA karena pembayaran tidak kunjung tuntas.
"Halo semuanya, Robert Alberts di sini. Saya telah diam mengenai masalah ini cukup lama, dan ada alasannya. Saya tidak pernah ingin membawa sengketa pribadi ke ranah publik atau menciptakan masalah yang tidak perlu bagi siapa pun. Saya memilih untuk mengikuti proses yang tepat dan membiarkan FIFA menangani masalah ini," ujar Robert Alberts.
Ia menegaskan bahwa keputusan untuk buka suara didorong oleh komentar-komentar miring dari pihak yang tidak memahami duduk perkara secara utuh. "Tapi baru-baru ini, saya telah melihat dan mendengar komentar-komentar dari orang-orang yang jelas tidak tahu ceritanya, dan mereka mulai menyalahkan keluarga saya serta diri saya sendiri. Dan sejujurnya, itu tidak baik dan tidak adil juga. Jadi, itulah alasan mengapa saya akhirnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," tuturnya.
Klarifikasi Status Kepelatihan
Robert juga meluruskan status kepergiannya dari Persib. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah dipecat secara sepihak, melainkan mengundurkan diri. "Kembali pada tahun 2021, saya menandatangani perjanjian saya dengan Persib, dan kontrak saya berlangsung hingga Mei 2025. Penting untuk dicatat bahwa saya tidak pernah dipecat pada saat itu, melainkan saya mengundurkan diri dari posisi saya sebagai pelatih kepala," ungkapnya.
Setelah perpisahan itu, komunikasi mengenai sisa kewajiban finansial tetap berlanjut dengan manajemen baru yang diwakili Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan. Robert menceritakan bahwa pada Januari 2025, ia bertemu langsung dengan Adhitia untuk membahas rencana pembayaran.
"Manajemen Persib berubah setelah itu, dan dengan manajemen yang baru, saya mencoba mendiskusikan pembayaran yang tertunda dalam sebuah rencana pembayaran. Kami merundingkan pengaturan pembayaran selama masa durasi kontrak saya, dan pada Januari 2025, saya secara pribadi bertemu dengan Aditia dari manajemen baru," jelas Robert.
Dari pertemuan tersebut, disepakati skema pemotongan sisa hak dan pembayaran dicicil mulai Maret hingga Desember 2025. "Kami duduk berhadapan, mencoba menyelesaikan semuanya bersama-sama; sebuah solusi yang seharusnya lebih baik bagi kedua belah pihak. Dan saya tentu saja juga tertarik untuk membantu klub, karena saya memahami situasi mereka. Kami mencapai kesepakatan untuk melakukan cicilan dari Maret hingga Desember 2025," paparnya.
Robert mengaku bersedia menerima jumlah yang lebih kecil dari kontrak asli demi meringankan beban klub. "Sebenarnya, saya setuju untuk mengurangi jumlah awal, dan saya bersedia berkompromi, menerima kurang dari jumlah kontrak asli karena saya juga memahami situasi klub dan benar-benar berusaha membantu Persib juga," bebernya.
Menyoal Ketidaktahuan Klub
Robert menyayangkan adanya pernyataan dari pihak klub yang mengaku tidak mengetahui latar belakang pembekuan pendaftaran pemain oleh FIFA. "Ada satu poin lagi yang ingin saya klarifikasi karena saya telah mendengar pernyataan bahwa Persib tidak tahu-menahu mengenai kasus ini. Saya merasa sulit untuk memahaminya karena ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara diam-diam atau tanpa sepengetahuan klub," tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa pertemuan resmi telah dilakukan jauh sebelum sanksi dijatuhkan. "Izinkan saya mengingatkan Anda bahwa kita telah mengadakan pertemuan pada Januari 2025 di mana kita telah menyelesaikan masalah-masalah ini," ujarnya.
Menurut Robert, langkah membawa kasus ini ke FIFA adalah jalur resmi setelah tenggat cicilan yang disepakati tidak dipenuhi. "Klub mengetahui tentang pengaturan pembayaran, klub mengetahui tentang pembayaran yang tertunda, masalah ini dibawa ke hadapan FIFA, dan FIFA mengeluarkan keputusan resmi. Ini bukan sekadar klaim pribadi saya atau sesuatu yang saya putuskan sendiri. Ini adalah proses resmi FIFA; bukti-bukti telah diserahkan dan FIFA telah membuat keputusannya," jelas Robert.
Ia juga membeberkan bahwa sanksi pendaftaran pemain dijatuhkan karena pembayaran yang belum tuntas. "FIFA telah menentukan bahwa Persib memiliki kewajiban yang belum diselesaikan kepada saya dan memerintahkan pembayaran tahun lalu. Ketika pembayaran masih belum dilakukan oleh Persib, konsekuensi di bawah proses FIFA pun mengikuti, termasuk sanksi pendaftaran tahun lalu," ucapnya.
Meski sempat ada pembayaran setelah vonis pertama, nominalnya belum menutup seluruh sisa hak hingga akhir 2025. "Setelah FIFA memerintahkan sanksi tersebut tahun lalu, Persib segera membayar saya, tetapi itu baru sebagian dari pembayaran. Masih banyak bulan-bulan lainnya yang harus dibayarkan hingga Desember 2025," ungkapnya.
Robert menegaskan bahwa ia telah berusaha menyelesaikan masalah secara kekeluargaan sebelum akhirnya menempuh jalur FIFA. "Saya mencoba menyelesaikan masalah ini secara langsung sepanjang waktu, menghubungi klub, saya menginginkan penjelasan mereka, dan saya memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Saya diam cukup lama karena ingin melindungi hubungan baik, dan juga karena saya sungguh berharap kita bisa menyelesaikan semuanya tanpa harus melalui FIFA," ujarnya.
Ia menilai keterlambatan pelunasan menjadi pemicu intervensi FIFA. "Jadi, saya rasa sekarang sudah sangat jelas bahwa orang-orang tahu itu adalah kesepakatan yang dibuat antara manajemen baru pada Januari 2025, di mana mereka harus membayar sisa uang saya yang jumlahnya sudah lebih sedikit dari sebelumnya. Dan karena uang tersebut tidak dibayarkan, FIFA bertindak sebagaimana mestinya, dan saya pun bertindak sebagaimana mestinya," katanya.
Kesepakatan Akhir dan Pencabutan Sanksi
Kabar baiknya, seluruh persoalan kini telah tuntas. Robert mengonfirmasi bahwa Persib telah melunasi seluruh kewajibannya dan sanksi FIFA telah dicabut. "Dan sebagai informasi untuk Anda, kemarin Persib telah membayar penuh seluruh jumlah yang tertunda, dan kemarin saya juga sudah menginformasikan kepada FIFA untuk mencabut sanksi tersebut," tegasnya.
Eks pelatih PSM Makassar itu memastikan tidak akan lagi berkomentar soal perkara ini. "Dengan ini, saya akan meninggalkan masalah ini dan tidak akan memberikan komentar lebih lanjut lagi dan seperti biasa saya akan bilang... Bagussssss," tutupnya.
Dalam keterangan terpisah, Robert menekankan pentingnya publik menilai polemik ini berdasarkan fakta hukum, bukan rumor. "Pada Januari 2025, saya secara pribadi bertemu dengan Adhitia (Putra) dari manajemen baru. Kami duduk berhadapan, mencoba menyelesaikan semuanya bersama-sama, sebuah solusi yang seharusnya lebih baik bagi kedua belah pihak," ujarnya.
Ia juga meminta semua pihak menghentikan prasangka buruk terhadap dirinya dan keluarganya. "Jangan berbicara buruk tentang saya atau keluarga saya setelah mendengar fakta ini," tegas Robert.
Artikel Terkait
Persib Gelar TC di Bali, Siap Hadapi Empat Kompetisi Musim Depan
Robert Alberts Buka Suara soal Sengketa Pembayaran dengan Persib
Sanksi FIFA Dicabut, Persib Bebas Rekrut Pemain Baru
PSM Makassar Resmi Pinjam Henhen Herdiana dari Persib