Daniel Johan Raih Penghargaan Legislator Benteng Nelayan dan Petani

- Jumat, 07 Agustus 2026 | 23:55 WIB
Daniel Johan Raih Penghargaan Legislator Benteng Nelayan dan Petani

Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan menerima penghargaan khusus dalam ajang detiktimur Awards 2026. Ia dinobatkan sebagai Legislator Benteng Nelayan dan Petani atas dedikasinya memperjuangkan kesejahteraan dua sektor tersebut.

Penghargaan diberikan pada malam penganugerahan di Grand Ballroom Trans Hotel Jakarta, Jumat (7/8/2026). Ajang ini digagas oleh detikSulsel sebagai bentuk apresiasi kepada tokoh-tokoh yang dinilai menghadirkan inovasi, kepemimpinan, serta program-program berdampak bagi kemajuan masyarakat di Indonesia Timur.

Proses seleksi berlangsung ketat. Dewan redaksi detikcom dan detikSulsel melakukan penilaian khusus dengan kriteria utama mencakup inovasi, kreativitas, dampak nyata bagi masyarakat, serta keaktifan tokoh di bidang masing-masing.

Kiprah untuk Petani dan Nelayan

Daniel Johan dikenal sebagai legislator yang konsisten memberi perhatian pada sektor pertanian, perikanan, dan pangan. Salah satu langkah nyatanya adalah mendorong evaluasi kebijakan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) agar disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan. Hal ini dinilai penting untuk meringankan beban nelayan dan pelaku usaha perikanan nasional.

Ia juga aktif mendorong regulasi dan hilirisasi komoditas demi meningkatkan nilai tambah serta memperluas akses pasar bagi petani. Namun, rekam jejak yang paling membekas adalah keterlibatannya dalam penanganan krisis komoditas jeruk Sambas di Kalimantan Barat.

Pada 2014-2019, produktivitas jeruk Sambas anjlok drastis akibat serangan hama dan tata niaga yang buruk. Daniel membawa persoalan ini ke tingkat nasional melalui Komisi IV DPR RI. Lewat fungsi pengawasan, ia mendesak pembatasan impor jeruk dan mengusulkan dukungan anggaran rehabilitasi lahan secara bertahap kepada pemerintah.

Upaya itu membuahkan hasil. Kementerian Pertanian (Kementan) tergerak membangun kawasan jeruk terintegrasi seluas 2.400 hektare di Kabupaten Sambas. Program pemulihan kemudian diperluas hingga mencakup lebih dari 20 ribu hektare sentra produksi jeruk di seluruh Indonesia. Selain bantuan benih, diterapkan pula program Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat untuk menanggulangi penyakit tanaman Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD).

Keberhasilan pemulihan kawasan ini perlahan mengembalikan daya saing produk lokal sekaligus mendongkrak perekonomian masyarakat setempat. Banyak petani Sambas kini mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga berkat bangkitnya komoditas unggulan tersebut.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags