Pakar UGM: Kobra Menelan Pisau karena Salah Identifikasi, Bukan Stres

- Kamis, 06 Agustus 2026 | 14:10 WIB
Pakar UGM: Kobra Menelan Pisau karena Salah Identifikasi, Bukan Stres

Seekor ular kobra yang menelan pisau dapur di rumah warga Desa Sroyo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, memicu perdebatan mengenai penyebab perilaku aneh tersebut. Pakar satwa liar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai kejadian itu bukan akibat stres, melainkan kesalahan identifikasi mangsa.

Dosen dan pemerhati satwa liar Fakultas Biologi UGM, Donan Satria Yudha, S.Si., M.Sc, menjelaskan bahwa ular kobra tersebut kemungkinan besar terkecoh oleh aroma daging yang masih menempel pada pisau. "Saya melihatnya bukan stres. Pisau dapur itu kan digunakan untuk memotong daging dan sebagainya, sehingga masih ada aroma yang tertinggal. Ular itu kan penglihatannya buruk, sehingga fokus menggunakan aroma," ujarnya saat dihubungi pada Rabu (5/8/2026).

Menurut Donan, ular memiliki penglihatan yang buruk dan mengandalkan indra penciuman melalui organ Jacobson. Dalam kasus ini, kobra Jawa itu mendeteksi bau daging pada pisau, tetapi tidak menyadari bahwa sumber bau tersebut adalah benda mati. "Karena ada aroma daging, atau darah, dia memakan pisau itu. Itu menurut saya dari sudut pandang biologi. Kalau stres makan pisau, sepertinya tidak. Otak ular kan kecil banget, sehingga pikiran stres menurut saya kurang tepat," imbuhnya.

Ular tersebut dievakuasi oleh relawan Exalos Indonesia pada Selasa (4/8) lalu dalam keadaan hidup. Namun, Donan menegaskan bahwa ular kobra tidak dapat memuntahkan benda yang sudah tertelan. "Mau dimuntahkan tidak bisa, karena giginya melengkung ke belakang, sehingga tidak bisa memuntahkan. Sehingga tertelan terus," jelasnya.

Meski demikian, Donan tidak menampik bahwa ular juga bisa mengalami stres dalam kondisi tertentu. Faktor pemicunya antara lain lingkungan yang tidak stabil, seperti perubahan suhu dan kelembapan, gangguan habitat, atau interaksi dengan manusia. "Ciri-ciri ular stres meringkuk, atau gesek-gesekkan badan ke substrat keras berulang-ulang, kadang mudah marah dan mendesis," terangnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags