Khofifah Tegaskan Jatim Siap Jadi Provinsi Terdepan dalam Pelestarian Mangrove

- Kamis, 30 Juli 2026 | 10:50 WIB
Khofifah Tegaskan Jatim Siap Jadi Provinsi Terdepan dalam Pelestarian Mangrove

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan komitmen provinsinya untuk menjadi yang terdepan dalam pelestarian ekosistem mangrove, sejalan dengan ambisi Indonesia menjadi negara terdepan dalam konservasi mangrove dunia. Pernyataan itu disampaikan dalam Festival Mangrove Jawa Timur ke-10 yang digelar di Pantai Panduri, Kabupaten Tuban, Rabu (29/7/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026.

Festival yang memasuki tahun kesepuluh ini diisi dengan berbagai kegiatan edukatif dan kolaboratif, mulai dari pameran, pertunjukan seni budaya, fashion show batik organik berbahan pewarna alami mangrove, hingga penanaman vegetasi asosiasi seperti cemara udang dan pandan laut. Kegiatan penanaman melibatkan musisi sekaligus pegiat lingkungan Akhadi Wira Satriaji (Kaka Slank), Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky, serta ratusan peserta festival.

Khofifah menekankan bahwa Indonesia memiliki sekitar 3,45 juta hektare kawasan mangrove, atau sekitar 23 persen dari total mangrove dunia. Potensi besar ini, menurutnya, harus diimbangi dengan kepemimpinan Indonesia dalam inovasi, kebijakan, dan gerakan pelestarian mangrove di tingkat global.

"Indonesia memiliki mangrove terbesar di dunia, yakni sekitar 3,45 juta hektare atau 23 persen dari total mangrove dunia. Karena itu, Jawa Timur siap menjadi leading province dalam pelestarian mangrove yang mendorong Indonesia menjadi leading country. Inisiatif-inisiatif pelestarian harus lahir dari kita sehingga Indonesia dapat menjadi kiblat sekaligus role model bagi dunia dalam menjaga ekosistem mangrove," ujar Khofifah dalam keterangan tertulis, Kamis (30/7/2026).

Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 3438 Tahun 2025, luas kawasan mangrove di Jawa Timur meningkat dari 27.221 hektare pada 2021 menjadi 31.067 hektare pada 2025. Artinya, dalam empat tahun terakhir terjadi penambahan sekitar 3.846 hektare. Capaian ini menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi dengan kawasan mangrove terluas di Pulau Jawa, dengan kontribusi mencapai 47,85 persen dari total luasan mangrove di Jawa.

"Dengan capaian tersebut, Jawa Timur menjadi provinsi dengan luasan mangrove terbesar di Pulau Jawa dengan kontribusi mencapai 47,85 persen dari total mangrove Pulau Jawa. Maka kalau tadi saya katakan Indonesia harus jadi lead country, maka Jawa Timur sebisa mungkin jadi lead province," ungkapnya.

Khofifah menegaskan bahwa peningkatan luas kawasan mangrove merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi, komunitas lingkungan, hingga masyarakat pesisir. Program rehabilitasi mangrove, Gerakan Mangrove Lestari, serta Festival Mangrove Jawa Timur yang digelar secara konsisten setiap tahun menjadi motor utama.

Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari kemampuan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. "Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong rehabilitasi yang berbasis karakteristik ekologi. Selain rehabilitasi mangrove, pada lokasi tertentu juga dilakukan penanaman vegetasi asosiasi seperti cemara laut dan pandan laut," katanya.

"Pendekatan ini merupakan bagian dari upaya rehabilitasi yang lebih menyeluruh, sehingga setiap kawasan memperoleh perlakuan yang sesuai dengan kondisi alamnya dan mampu memberikan manfaat ekologis yang optimal," lanjut Khofifah.

Pada kesempatan yang sama, Khofifah meresmikan Pantai Panduri sebagai destinasi wisata edukasi mangrove. Peresmian dilakukan bersama Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Jumadi, Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Bidang Hubungan Antar Lembaga Pusat dan Daerah Hanifah Dwi Nirwana, serta Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan Dyah Murtiningsih. Sebagai simbol komitmen, Khofifah bersama tamu undangan menanam 700 bibit vegetasi yang terdiri atas cemara udang dan pandan laut, serta melepasliarkan 100 ekor burung perkutut.

Dalam rangkaian festival, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga memberikan penghargaan kepada 21 individu, pemerintah daerah, perusahaan, dan pegiat lingkungan yang dinilai berkontribusi dalam pelestarian mangrove. Beberapa penerima penghargaan antara lain Bupati Tuban, Wakil Bupati Gresik, Wakil Bupati Lamongan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama, PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tuban, PT Petrowell Energi, PT Saka Indonesia Pangkah Limited (SIPL), serta pegiat lingkungan Ali Mansyur.

Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky mengapresiasi kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Tuban sebagai tuan rumah festival. Menurutnya, kegiatan ini berdampak positif terhadap kesadaran masyarakat pesisir akan pentingnya mangrove sebagai pelindung pantai dan penopang ekonomi. "Hampir 30-40 persen mata pencaharian masyarakat kami adalah nelayan. Festival Mangrove yang ke-10 ini menjadi pilot project yang sangat strategis untuk memahamkan masyarakat bahwa tidak ada kekurangan sedikit pun ketika kita secara masif melakukan penanaman mangrove di bibir pantai maupun di dasar laut," kata Aditya.

"Mangrove bukan hanya mencegah abrasi dan intrusi air laut, tetapi juga mampu menyerap karbon dioksida, menghadirkan ekosistem baru bagi ikan dan kepiting, bahkan bisa dimanfaatkan menjadi tepung, kopi tanpa kafein," imbuhnya.

Direktur Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan Dyah Murtiningsih juga mengapresiasi konsistensi Jawa Timur. "Festival Mangrove ini membuktikan Jawa Timur sangat konsisten melindungi serta mempertahankan mangrove karena keberadaan dan fungsinya sangat diperlukan oleh masyarakat pesisir. Sampai tahun ini, Kementerian Kehutanan bersama pemerintah daerah dan seluruh pihak telah melakukan rehabilitasi mangrove seluas 1.643 hektare di Provinsi Jawa Timur," pungkas Dyah.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags