Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di Jakarta hari ini berubah menjadi panggung budaya internasional. Parade Jakarta World Folklore Festival (JWFF) menampilkan iring-iringan peserta dari tujuh negara yang berjalan dari Patung Sudirman hingga Bundaran HI, Minggu (5/7/2026). Warga yang memadati kawasan itu disuguhi tarian tradisional dari Filipina, Yunani, Rusia, Romania, Polandia, Korea, dan Indonesia yang diwakili Cilegon, Banten.
Perwakilan Yunani menampilkan Tari Syrtos, sementara kontingen Indonesia membawakan Tari Bandrong. Ornamen khas Betawi, seperti ondel-ondel, turut menghiasi panggung utama. Parade ini merupakan bagian dari rangkaian menyambut 500 tahun Jakarta yang akan jatuh pada 2027.
Seorang warga Pasuruan, Karomah, mengaku takjub. "Kita yang dari luar Jakarta sangat excited, sangat bangga sekali di tengah-tengah gedung bertingkat tapi masih menonjolkan khas adat budaya Betawi di Jakarta," ujarnya saat ditemui di lokasi.
Anaknya, Muhammad Agha Bimuka, awalnya berniat melihat Monas dan Gedung Thamrin Nine. Namun ia justru terkesima melihat para peserta asing. "Ya pokoknya aku tiba-tiba terkejut kalau ada bule-bule dari negara lain. Aku sebenarnya mau mencari Monas atau Gedung Autograph atau Thamrin Nine," kata Agha. Ia dan adiknya, Ain Chadia Aesha, baru tahu bahwa Jakarta hampir berusia lima abad. "Seru sekali, tadi nari-nari itu loh. Oh ternyata gini ya, Jakarta hampir 5 abad," ucapnya.
Presiden Conseil International des Organisations de Festivals de Folklore et d'Arts Traditionnels (CIOFF) Indonesia, Said Rachmat, menjelaskan bahwa JWFF merupakan kerja sama antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan CIOFF Indonesia. Acara ini digelar dalam rangka menyambut ulang tahun Jakarta yang ke-500 di 2027. "Kami ingin supaya Jakarta menjadi kota global di dunia. Sekarang ini Jakarta menjadi kota 71 global di dunia, semenjak kepemimpinan Bapak Pramono Anung dari urutan 74 menjadi urutan ke-71. Dengan adanya kegiatan internasional seperti ini, kita harapkan nanti pada tahun 2030, Jakarta bisa masuk 50 kota global di dunia," kata Said.
Hendrik A Rum Sujiwati, Owner Sanggar Puspa Arum dari Cilegon, mengatakan anak didiknya sangat antusias. "Anak-anak kami senang banget, bangga, bahagia, dan bisa kenalan dengan penari-penari dari mancanegara. Tadi mereka kenalan dengan orang Korea, dengan orang Polandia. Mereka senang banget, happy banget, sampai jalan saja tidak terasa walaupun jauh," ujarnya.
Artikel Terkait
Jakarta World Folklore Festival 2026 Resmi Dibuka, 6 Negara Tampilkan Seni Tradisi