Gempa bumi berkekuatan 6,9 magnitudo mengguncang wilayah utara Jepang, tepatnya di lepas pantai Prefektur Iwate, pada Kamis pagi waktu setempat. Meski guncangannya tergolong kuat, Badan Meteorologi Jepang (JMA) memastikan tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan setelah kejadian tersebut.
Menurut keterangan resmi JMA yang dikutip dari kantor berita asing, pusat gempa berada di kedalaman 50 kilometer di bawah dasar laut. Guncangan terasa hingga ke sejumlah kota di kawasan Tohoku. Kota Hachinohe di Prefektur Aomori mencatat intensitas "6-bawah", sementara beberapa kota di Prefektur Iwate mencatat intensitas "5-atas".
Skala intensitas yang digunakan Jepang memiliki arti yang spesifik. Pada level "6-atas", misalnya, orang-orang hanya bisa merangkak dan tidak mampu berdiri saat gempa terjadi. Menurut JMA, dalam kondisi seperti itu, perabotan rumah tangga yang tidak diamankan dengan baik berpotensi terguling.
Dampak langsung dari gempa ini terasa pada sistem transportasi. Layanan kereta cepat Tohoku Shinkansen langsung menghentikan operasionalnya untuk pemeriksaan keamanan jalur. Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Jepang telah membentuk satuan tugas khusus untuk menangani dan memantau dampak pascagempa.
"Gempa terjadi di lepas pantai wilayah utara Iwate dengan kedalaman pusat gempa 50 kilometer," demikian pernyataan resmi Badan Meteorologi Jepang.
Artikel Terkait
Tim Gegana Evakuasi Bom Mortir Peninggalan Perang Dunia II di Jayapura
Aturan Ganjil Genap Jakarta Berlaku Kembali Hari Ini, Hanya Pelat Ganjil yang Boleh Melintas
Polisi Tangkap Otak Pengeroyokan dan Perampasan Motor Korban Kencan di Kalideres
Bapenda Buka Gerai Samsat di Jakarta Fair, Pengunjung Bisa Bayar Pajak Kendaraan Sambil Nikmati Pameran