Wakil Ketua MPR: Piala Dunia Jadi Katalis Penguatan Nilai Kebangsaan dan Pembenahan Sepak Bola Nasional

- Rabu, 24 Juni 2026 | 20:15 WIB
Wakil Ketua MPR: Piala Dunia Jadi Katalis Penguatan Nilai Kebangsaan dan Pembenahan Sepak Bola Nasional

Momentum Piala Dunia tidak hanya menjadi ajang pesta sepak bola global, tetapi juga dapat berfungsi sebagai katalis untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan. Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, menilai perhelatan akbar ini mampu menjadi cermin bagi pembangunan sepak bola nasional yang lebih baik dan berkelanjutan.

“Ajang seperti Piala Dunia memiliki daya tular magis yang mampu menginspirasi generasi muda. Di balik persaingan di lapangan, ada pesan mendalam tentang penguatan persatuan dari keberagaman yang penting bagi bangsa yang majemuk seperti Indonesia,” kata Lestari dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/2026).

Pernyataan itu disampaikan dalam sambutan tertulisnya pada diskusi daring bertema Piala Dunia dan Masa Depan Sepak Bola Indonesia yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12. Menurut Rerie, dukungan terhadap Tim Nasional Indonesia kerap mampu mengintegrasikan masyarakat dari Aceh hingga Papua ke dalam satu identitas kolektif. Di tengah euforia Piala Dunia, ia juga mengingatkan pentingnya kepekaan sosial dan melihat ke dalam negeri.

Rerie menambahkan, pembangunan ekosistem sepak bola yang sehat berpotensi membuka jalur mobilitas sosial baru bagi generasi muda di berbagai pelosok. Hal itu dapat menjauhkan mereka dari kemiskinan dan kenakalan remaja. “Nilai sportivitas, disiplin, dan kerja keras yang diajarkan di lapangan hijau harus diinternalisasi untuk membangun karakter bangsa yang kompetitif,” paparnya.

Direktur Operasional I League Asep Saputra mengungkapkan bahwa tim-tim yang berlaga di Piala Dunia jangan hanya dilihat saat mereka tampil pada putaran final. Negara-negara yang berhasil lolos ke putaran final merupakan hasil dari proses pengembangan sepak bola mereka pada 10 hingga 20 tahun ke belakang. Ia mencontohkan Jepang yang memiliki visi pengembangan sepak bola 100 tahun yang dimulai sejak 1992. Dalam dua tahun terakhir, J League juga berupaya memperbaiki sejumlah hal dalam pelaksanaan kompetisi. Menurut Asep, saat ini diperlukan transformasi besar agar mampu membangun sepak bola secara berkelanjutan, sehingga dapat melahirkan organisasi dan sumber daya manusia sepak bola yang berkualitas dunia.

CEO Wospac Rep Office Indonesia Benhard Sitorus berpendapat, tantangan ke depan adalah bagaimana Indonesia mampu menjaga momentum kebangkitan sepak bola di usia dini secara berkelanjutan. Ia menyebutkan, rasio transisi pemain sepak bola di Indonesia dari tingkat akademi ke profesional hanya berkisar 4 hingga 10 persen. Selain itu, dibutuhkan tata kelola yang baik dan transparan untuk melahirkan SDM sepak bola yang berkualitas. Benhard mengakui, PSSI saat ini sudah memiliki sistem pengembangan sepak bola yang berjenjang sesuai kelompok umur. Namun, standar kualitas pembinaannya dinilai tidak jelas.

Pengamat sepak bola Suryopratomo mengungkapkan, setiap gelaran Piala Dunia selalu memunculkan keinginan untuk bisa bermain di putaran final. Menurutnya, tim sepak bola nasional yang tangguh tidak ada hubungannya dengan jumlah penduduk suatu negara. China dan India, misalnya, dengan jumlah penduduk ratusan juta hingga miliaran jiwa, juga tidak memiliki kesebelasan sepak bola yang tangguh di tingkat dunia. Yang terpenting, kata dia, adalah kemampuan membangun ekosistem sepak bola yang baik dan berkelanjutan.

Suryopratomo menilai, Indonesia seringkali terperangkap dalam kepentingan jangka pendek dalam pengembangan sepak bola. Negara ini membutuhkan sistem pengembangan yang holistik untuk membangun tim nasional yang tangguh. Pengembangan faktor-faktor mendasar, seperti pembinaan kelompok umur, infrastruktur yang standar, dan pelatih bersertifikat, juga penting. Ia pun mendorong pemahaman bahwa menang dalam pertandingan adalah bagian dari proses, bukan tujuan. “Mampukah kita melakukan transformasi mendasar bahwa menang itu bagian dari proses,” ujarnya. Menurut Suryopratomo, diperlukan peta jalan pengembangan sepak bola yang transparan, berkelanjutan, serta didukung pemerintah dan semua pihak untuk melahirkan tim nasional yang tangguh.

Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali, mengingatkan bahwa Indonesia sebenarnya pernah tampil di ajang Piala Dunia pada tahun 1930-an dengan nama Hindia Belanda. Namun dalam perjalanannya, kemampuan sepak bola Timnas Indonesia semakin lemah jika dibandingkan dengan timnas negara-negara tetangga. Menurut Akmal, hal itu disebabkan ekosistem sepak bola nasional yang tidak dibangun dengan baik. Ia mengungkapkan sejumlah praktik negatif seperti pengaturan skor, perjudian, penipuan umur, dan pemain titipan mewarnai dinamika sepak bola di Tanah Air. “Tim nasional sepak bola yang kuat selalu hadir dari pembinaan yang berkelanjutan dan kompetisi yang sehat,” ujar Akmal.

Wartawan senior Saur Hutabarat menyoroti persoalan birokrasi. Menurutnya, Menteri Olahraga yang masih merangkap sebagai Ketua Umum PSSI menjadi masalah. Selama itu terjadi, target-target pembangunan sepak bola yang ditetapkan menjadi nol besar dan omong kosong belaka. Regulator dan operator, kata dia, dalam kondisi tumpang tindih. Ia pun mendorong pembenahan birokrasi. Saur menegaskan, tidak ada kekuatan olahraga yang terbentuk dari pembinaan lewat jalan pintas, apalagi disertai dengan mental menerabas. “Itulah yang terjadi pada praktik naturalisasi dan diiringi dengan proses perpindahan kewarganegaraan,” ujarnya. Menurut Saur, tumpang tindih antara regulator dan operator, serta jalan pintas dalam pembinaan, meracuni ekosistem pengembangan sepak bola nasional Indonesia.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar