Enam anggota organisasi kemasyarakatan (ormas) IPK di Pematangsiantar menjadi tersangka setelah menganiaya seorang pria hingga tewas. Ironisnya, korban yang bernama Jaka Malau (24) itu bukanlah target utama mereka. Peristiwa ini dipicu oleh perselisihan soal harga pembuatan tato.
Video aksi pengeroyokan tersebut sempat viral di media sosial. Dalam rekaman yang beredar, tampak para pelaku menendang, menginjak, dan memukul korban di Taman Bunga Kota Pematangsiantar. Peristiwa itu terjadi pada 28 Mei 2026, dan korban meninggal dunia sehari kemudian setelah sempat dilarikan ke rumah sakit.
Kasat Reskrim Polres Pematangsiantar AKP Sandi Riz Akbar mengungkapkan hasil autopsi menunjukkan penyebab kematian adalah pendarahan di bagian belakang kepala atau otak bagian belakang. "Hasil autopsi, penyebab meninggalnya karena adanya pendarahan di bagian kepala belakang atau di bagian otak belakang," katanya, Jumat (19/6/2026).
Rangkaian kejadian bermula ketika seorang anggota IPK berinisial HH membuat tato pada seorang saksi berinisial MS. Setelah selesai, MS mematok harga Rp 600 ribu. HH terkejut dengan besaran biaya tersebut, tetapi tetap membayarnya.
"Dari keterangan saksi MS selaku pembuat tato, harganya Rp 600 ribu," ujar Sandi saat dikonfirmasi, Selasa (23/6).
HH kemudian menceritakan soal harga tato itu kepada pelaku RWMS. Cerita itu memicu kemarahan RWMS. Ia pun mendatangi tempat pembuatan tato MS di Taman Bunga dan membawanya ke Taman Hewan Pematangsiantar. Di sana, RWMS terlibat cekcok dengan MS. Saat itu, ada lima pelaku lain yang ikut serta.
RWMS meminta MS mengembalikan sebagian uang yang telah dibayarkan HH. Namun, MS belum bisa mengembalikannya dan meminta waktu untuk mengumpulkan uang. "Pihak RWMS tidak terima (soal harga tato) dan langsung mengajak lima pelaku lainnya untuk mendatangi saksi MS di Taman Bunga dan membawanya ke Taman Hewan untuk meminta saksi MS mengembalikan uang tato yang dibayarkan oleh saksi HH yang membuat tato," jelas Sandi.
Permintaan itu tidak diterima RWMS. Cekcok pun tak terhindarkan. Setelah itu, para pelaku membawa MS kembali ke stand tatonya di Taman Bunga dengan menggunakan mobil. Sesampainya di lokasi, RWMS turun dari mobil, sementara MS dan pelaku lainnya masih di dalam.
Saat turun, RWMS melihat korban Jaka sedang duduk di samping stand tato MS. Dalam keadaan emosi, RWMS langsung mengira korban adalah teman MS. Cekcok antara korban dan RWMS pun terjadi dan berujung pada pemukulan. Melihat hal itu, rekan-rekan RWMS yang masih di dalam mobil turun dan ikut mengeroyok korban.
"Iya (salah sasaran), karena (korban) duduk dekat stand tato (MS)," sebut Sandi.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Belum Terima Surat Panggilan Sidang Praperadilan Roy Suryo
Forum Jakarta Soroti Penyelarasan Rencana Lima Tahun Tiongkok dengan Visi Indonesia Emas 2045
Kobra Jawa Masuk Kamar Rumah Warga Bogor, Damkar Evakuasi dalam 15 Menit
Timnas Iran Tinggalkan Surat Perdamaian di Ruang Ganti Usai Laga Piala Dunia 2026