Semester akhir yang seharusnya menjadi gerbang menuju impian, bagi sebagian mahasiswa justru berubah menjadi medan ujian yang berat. Tugas menumpuk, tekanan untuk segera lulus, dan kondisi kesehatan yang kadang menurun menjadi beban yang menguji ketahanan mental dan fisik. Namun di tengah hiruk-pikuk perjuangan itu, satu nama selalu menjadi alasan untuk terus bertahan: ibu.
Sejak kecil, penulis menyaksikan bagaimana ibunya berjuang tanpa banyak mengeluh. Beliau selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, meskipun sering kali harus mengorbankan kebahagiaan dan kenyamanannya sendiri. Dari sanalah lahir satu impian sederhana setelah lulus kuliah: mendapatkan pekerjaan yang baik, memperoleh penghasilan dari hasil kerja sendiri, lalu membahagiakan ibu.
Bagi sebagian orang, impian itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi penulis, itu adalah tujuan hidup yang sangat berharga. Keinginan untuk melihat ibu tersenyum bangga saat menerima gaji pertama, membantu meringankan beban hidupnya, dan yang paling utama mengajak ibu berziarah ke Tarim, Hadhramaut, sebuah kota yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita para ulama dan orang-orang saleh.
Tarim bukan sekadar sebuah kota. Bagi penulis, Tarim adalah simbol harapan, doa, dan cita-cita yang selama ini disimpan dalam hati. Ia membayangkan bisa berjalan bersama ibu di tanah yang penuh keberkahan itu, memanjatkan doa, dan mengucapkan rasa syukur atas perjalanan hidup yang telah mereka lalui.
Namun akhir-akhir ini, ketika kondisi tubuh sering menurun dan kesehatan tidak selalu baik, penulis mulai banyak merenung tentang kehidupan. Ia menyadari bahwa manusia hanya bisa merencanakan, sedangkan Allah yang menentukan segala sesuatu. Karena itu, ia belajar untuk lebih menghargai waktu yang ada.
“Saya ingin terus berjuang menyelesaikan pendidikan ini dengan sebaik-baiknya. Saya ingin terus menjaga harapan bahwa suatu hari nanti saya bisa membahagiakan ibu sebagaimana yang selama ini saya impikan,” tulisnya.
Jika saat ini masih diberi kesempatan untuk bernapas, belajar, dan berusaha, maka ia ingin memanfaatkannya sebaik mungkin. Sebab ia percaya bahwa setiap perjuangan yang dilakukan dengan niat baik tidak akan pernah sia-sia di hadapan Allah.
Hari ini ia mungkin masih seorang mahasiswa semester akhir yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi dan menghadapi berbagai tantangan hidup. Namun ia tetap menyimpan keyakinan bahwa di ujung jalan ini ada masa depan yang lebih baik. Kepada ibunya, ia menyampaikan terima kasih atas setiap doa yang tidak pernah putus dan setiap pengorbanan yang mungkin tidak akan pernah bisa dibalas sepenuhnya.
“Doakan saya agar diberikan kesehatan, kekuatan, dan kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan ini. Doakan saya agar suatu hari nanti saya bisa bekerja, membahagiakan ibu, dan mewujudkan impian kita berziarah ke Tarim, Hadhramaut,” ujarnya.
Karena hingga hari ini, impian terbesarnya bukanlah tentang kesuksesan atau kekayaan. Impian terbesar penulis adalah melihat ibu bahagia.
Artikel Terkait
Sidang Cerai Rafaela Batal karena Brian Tak Hadir, Kuasa Hukum Sebut Ada Dugaan KDRT
PTUN Jakarta Tolak Gugatan Kepengurusan PPP, Legalkan Mardiono Sebagai Ketua Umum
Timnas Indonesia Dipastikan Absen di Asian Games 2026 karena Aturan Baru
Eksekusi Mati di Arab Saudi Tembus 100 Orang Tahun Ini, Mayoritas Terkait Narkoba