Mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, secara khusus meminta Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk mengawal pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka hingga dua periode. Permintaan tersebut disampaikan langsung dalam sebuah pertemuan tertutup di Solo, Kamis (18/6) pagi, dan dibenarkan oleh Ketua DPP PSI, Bestari Barus.
Bestari mengungkapkan bahwa dalam pertemuan itu, Jokowi menegaskan tidak ada skenario politik yang dikenal sebagai "matahari kembar" atau dualisme kepemimpinan. Ia justru meminta seluruh kader dan simpatisan partai untuk fokus mendukung pemerintahan yang sedang berjalan.
"Kepada kami beliau menyampaikan bahwa kita itu diminta untuk mengawal Pak Prabowo-Gibran ini, bahkan sampai dua periode. Jadi nggak ada itu fitnahan tentang bakal ada dua matahari. Matahari gimana bisa dua? Ada-ada aja," kata Bestari kepada wartawan, Jumat (18/6).
Bestari menambahkan, Jokowi juga mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan politik dan tidak terpecah belah oleh isu-isu yang belum tentu kebenarannya. Pesan tersebut, menurut Bestari, menjadi pedoman bagi PSI dalam menjalankan peran politik ke depan.
Sementara itu, di tengah hiruk-pikuk wacana politik jangka panjang tersebut, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) justru memilih sikap berbeda. Juru bicara PDIP, Guntur Romli, menegaskan bahwa partainya belum memikirkan kontestasi Pemilu 2029.
"PDI Perjuangan belum berpikir soal Pemilu 2029. Instruksi dari Ibu Ketua Umum (Megawati Soekarnoputri), kami harus gerak di akar rumput, menangis dan tertawa bersama rakyat. Menjadi solusi di tengah persoalan ekonomi, politik, dan sosial di masyarakat," kata Guntur saat dihubungi, Sabtu (20/6/2026).
Menurut Guntur, bagi PDIP, politik bukanlah sekadar perebutan kekuasaan. Ia menilai wacana dukungan hingga dua periode yang disuarakan oleh kubu lain terlalu dini dan tidak sesuai dengan prioritas partai saat ini.
"Bagi PDI Perjuangan, politik bukan soal kekuasaan, apalagi sudah bicara dini soal Pemilu 2029, tapi benar-benar perjuangan untuk rakyat," ucapnya.
Dua pandangan yang berbeda ini mencerminkan dinamika politik nasional yang mulai memanas meskipun Pemilu 2029 masih beberapa tahun lagi. Di satu sisi, ada kekuatan politik yang sejak awal ingin memastikan keberlanjutan kepemimpinan, sementara di sisi lain, ada yang memilih untuk tetap fokus pada kerja-kerja kerakyatan dan menunda diskursus elektoral.
Artikel Terkait
Harga Emas Terus Melemah, Tertekan Dolar AS dan Sinyal Suku Bunga Tinggi
PDIP Bantah Terlibat Gerakkan Demo Mahasiswa, Tolak Stigma ‘Partai Abu-Abu’
Polisi Amankan Empat Tersangka Pembunuh Dua Pria yang Jasadnya Ditemukan di Got Bekasi
Kopi Susu dan Boba Picu Lonjakan Perlemakan Hati pada Usia Muda