Serangan udara militer Israel ke wilayah Lebanon selatan pada Jumat, 19 Juni 2026, menewaskan sedikitnya 16 orang. Operasi ini berlangsung di tengah masa transisi implementasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang baru ditandatangani tiga hari sebelumnya.
Pasukan Pertahanan Israel menyatakan bahwa serangan tersebut menyasar anggota dan infrastruktur kelompok Hizbullah. Militer Israel menuduh Hizbullah berulang kali melanggar gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya, sehingga tindakan militer dianggap sebagai respons yang diperlukan.
Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran sendiri ditandatangani pada Rabu, 17 Juni 2026, oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Dokumen itu menyerukan penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di berbagai front konflik, termasuk di Lebanon. Namun, implementasi perjanjian tersebut langsung menghadapi ujian berat.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pasukannya akan tetap berada di Lebanon hingga ancaman dari Hizbullah dinilai benar-benar berakhir. Sikap ini memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan kesepakatan yang baru diteken, karena secara langsung bertentangan dengan semangat penghentian operasi militer.
Sementara itu, kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance ke Swiss untuk memimpin perundingan lanjutan dengan Iran terpaksa ditunda. Media yang berafiliasi dengan Hizbullah melaporkan bahwa penundaan terjadi karena Iran belum mengirim delegasinya akibat serangan Israel yang masih berlangsung di Lebanon. Gedung Putih menyatakan bahwa Vance dan timnya telah siap mengikuti perundingan, tetapi rencana tersebut belum dapat difinalisasi.
“Logistik perundingan ini tidak pernah sederhana atau dapat diprediksi,” demikian pernyataan resmi pemerintah AS.
Di tengah ketegangan ini, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei sebelumnya telah mendukung perundingan langsung dengan Amerika Serikat. Meski demikian, ia menegaskan bahwa negosiasi tatap muka tidak berarti Iran akan menerima seluruh pandangan pihak lawan. Pernyataan ini menunjukkan sikap hati-hati Teheran di tengah dinamika yang masih cair.
Vance juga mengkritik sebagian pejabat Israel yang dinilai menentang kesepakatan tersebut. Ia menegaskan bahwa Trump saat ini merupakan satu-satunya pemimpin dunia yang masih menunjukkan simpati kuat terhadap Israel. Namun, Vance menyebut Netanyahu sejauh ini tidak secara langsung menolak perjanjian itu, meninggalkan ruang bagi diplomasi lebih lanjut.
Kesepakatan AS-Iran mulai berlaku segera setelah ditandatangani dan membuka masa negosiasi selama 60 hari antara Teheran dan Washington. Perjanjian itu mencakup pelonggaran sejumlah sanksi terhadap Iran, pembatasan stok uranium yang diperkaya tinggi, serta pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa pungutan selama dua bulan ke depan. Namun, serangan terbaru di Lebanon selatan menjadi pengingat bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang dan penuh rintangan.
Artikel Terkait
Mantan Wakil Kepala BGN Bongkar Dugaan Markup Proyek CCTV dan Sidik Jari Rp300 Miliar
Dua Jenazah Pria Ditemukan di Got Bekasi, Polisi Amankan Empat Pelaku
Roy Suryo dan Dokter Tifa Jalani Pemeriksaan Kesehatan di RS Polri Usai Ditahan Terkait Dugaan Fitnah Ijazah Jokowi
Pelatih Timnas Indonesia John Herdman Bertemu Presiden Prabowo, Bahas Target Piala Dunia 2030