Suasana khidmat menyelimuti perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE yang digelar di Wihara Ekayana Arama, Jakarta Barat, pada hari ini. Ribuan umat Buddha tampak memadati area wihara sejak pagi untuk mengikuti rangkaian prosesi keagamaan tersebut.
Berdasarkan pantauan di lokasi, para peserta mengikuti setiap tahapan perayaan dengan penuh penghayatan. Sejumlah relawan terlihat melakukan pelimpahan jasa dan wujud syukur di sela-sela prosesi yang berlangsung dari pagi hingga sore hari.
“Pelimpahan jasa dan wujud syukur karena kami semua yang tergabung dalam panitia diberikan kesempatan hari ini untuk melayani orang. Jadi kami hari ini berkumpul untuk bersuka cita dan bersyukur atas kesempatan yang kami bisa lakukan dari pagi sampai sore hari,” ujar Pengurus Dewan Pembina Panitia Waisak Wihara Ekayana Arama, Febrian, saat ditemui di lokasi.
Febrian menjelaskan, rangkaian perayaan telah dimulai sejak pagi dengan berbagai prosesi sakral. “Dimulai pagi tadi, pukul 07.15 sampai 08.30 itu dimulai dengan prosesi pindapata. Kemudian pukul 09.00 sampai 11.30 itu ada puja bakti Waisak, di mana pesan Waisak disampaikan oleh Bhante Dharmavimala Mahathera selaku wakil kepala Wihara Ekayana sekaligus pendiri dari Wihara Ekayana Arama,” katanya.
Ia menambahkan, lebih dari 10 ribu umat Buddha hadir dalam perayaan tersebut. “Untuk jumlahnya sendiri, hari ini lebih dari 10 ribu umat Buddha yang melakukan puja bakti atau memperingati Hari Tri Suci Waisak di Wihara Ekayana Arama,” sambungnya.
Puncak perayaan berlangsung pada prosesi detik-detik Waisak yang diperkirakan jatuh pada pukul 15.45. Pada momen tersebut, seluruh umat diajak untuk hening dan meresapi nilai-nilai ajaran Buddha. “Kalau detik-detik Waisak jatuhnya itu kurang lebih pukul 15.45. Ini nanti kondisinya adalah kita sama-sama tenang, semua tenang, meresapi nilai-nilai agama Buddha atau dharma supaya kita semua menjadi orang yang lebih sadar. Jadi momen ini menjadikan momen untuk hening. Kemudian dengan duduk tenang kalau dalam ininya adalah seperti meditasi,” jelas Febrian.
Perayaan tahun ini turut dihadiri sejumlah pejabat negara, di antaranya Menteri Agama Nasaruddin Umar, Kapolda Metro Jaya Komjen Asep Edi Suheri, dan Pangdam Jaya Letjen Deddy Suryadi. Febrian mengungkapkan bahwa Menteri Agama menyampaikan apresiasi kepada umat Buddha yang hadir.
“Kemudian tadi ada kehadiran dari Menteri Agama, beliau menyampaikan bahwa dia juga bersukacita melihat begitu banyaknya umat Buddha karena ajaran Buddha sendiri mengajarkan kita untuk selalu eling atau sadar. Dan sadar ini membuat kita semua bisa berdamai dengan diri sendiri, sehingga ketika seseorang berdamai dengan dirinya sendiri, maka dia akan membawa kedamaian bagi masyarakat, dan bahkan bagi negaranya,” kata Febrian menirukan pernyataan Menag.
Sementara itu, Kapolda Metro Jaya menyampaikan pesan yang sarat makna kemanusiaan. “Bapak Kapolda tadi menyampaikan mengenai ‘Kasih yang mulia tidak menakar kelayakan, ia hadir dan menyinari, sebagaimana cahaya tidak pernah memilih yang akan diteranginya.’ Jadi pesan-pesan ini menjadi pesan perdamaian dan sangat humanis kalimatnya, membuat kita terus belajar untuk menjadi orang yang penuh keceriaan, penuh cinta kasih, dan siap menjadi pelita bagi semua orang,” ungkap Febrian.
Pangdam Jaya Letjen Deddy Suryadi juga turut memberikan pesan perdamaian dalam perayaan tersebut. Menurut Febrian, Pangdam Jaya menuliskan sebuah pesan yang mendalam. “Pesan yang disampaikan tadi adalah kalau dari Pak Pangdam adalah ‘Harmoni terwujud ketika setiap pelita dengan cahayanya yang berbeda bersedia menyinari jalan yang sama,’” pungkasnya.
Artikel Terkait
Jenazah Ryamizard Ryacudu Disalatkan di Cikeas, Akan Dimakamkan di TMP Kalibata
Ribuan Umat Buddha Padati Candi Borobudur dalam Perayaan Waisak 2570 BE/2026
Kebakaran Hebat Landa Permukiman Padat di Cikarang Barat, Enam Unit Damkar Dikerahkan
Polres OKU Gencarkan Mitigasi Bencana Hidrometeorologi Lewat Gerakan Belida Antisipasi Genangan Air