"Pada pukul 20.54 WIB, terjadi erupsi lagi dengan tinggi kolom sekitar 500 meter di atas puncak," tutur Liswanto menambahkan.
Keadaan saat itu masih aktif. Erupsi ketiga itu juga menghasilkan abu dengan karakteristik serupa, terus mengalir ke arah utara.
Dengan status Level III atau Siaga, otoritas pun memberikan sejumlah peringatan keras. Masyarakat sama sekali dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, dalam radius 13 kilometer dari puncak. Itu zona bahaya inti.
Di luar jarak itu pun, risiko belum tentu hilang. Warga diminta menjauhi tepian sungai atau sempadan sepanjang Besuk Kobokan dalam jarak 500 meter. Ancaman awan panas dan lahar bisa menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak. Bahaya lontaran batu pijar juga mengintai, sehingga aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah mutlak dilarang.
Kewaspadaan ekstra juga diperlukan untuk ancaman sekunder. Masyarakat diimbau mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan terutama lahar yang bisa meluncur deras melalui sejumlah besuk atau aliran sungai. Tak hanya sungai besar, anak-anak sungai kecil yang bermuara ke Besuk Kobokan juga berpotensi dilanda lahar. Situasinya benar-benar membutuhkan kewaspadaan penuh.
Artikel Terkait
Kisah Kecelakaan Palsu yang Berujung Pengakuan Pembunuhan di Asahan
Rafah Kembali Terbuka, Pasien dan Korban Luka Gaza Mulai Dievakuasi
Perceraian yang Ditolak Berujung Kobaran Api di Tapanuli Selatan
Megawati Hadiri Zayed Award 2026, Bahas Kemanusiaan hingga Pertemuan Bilateral di Abu Dhabi