Gagasannya jelas. Dengan mengembangkan biodiesel atau biosolar, Indonesia bisa lebih mandiri. “Jadi kita nanti biodiesel, biosolar itu akan membuat kita bebas dari ketergantungan luar,” paparnya. Dia memberi kelonggaran bagi yang tetap ingin menggunakan bensin, dengan nada sedikit sinis. “Yang mau pakai bensin terus silakan, orang kaya bayar aja nggak apa-apa harga dunia. Tapi rakyat kita bisa hidup dengan solar.”
Tak berhenti di situ, Presiden juga menyoroti pemanfaatan limbah. Minyak jelantah, yang sering diabaikan, ternyata bisa diolah menjadi bahan baku avtur. Ini yang membuatnya mengambil langkah tegas.
“Limbahnya kelapa sawit, jelantah itu, bahan untuk avtur,” jelasnya.
Karena itu, dia memutuskan untuk menahan komoditas itu di dalam negeri. “Sehingga maaf bangsa-bangsa lain saya tutup. Saya larang ekspor limbah kelapa sawit, ekspor jelantah. Harus untuk kepentingan rakyat Indonesia dulu,” tutur Prabowo dengan nada tegas.
Pidato itu menunjukkan arah kebijakannya: memaksimalkan sumber daya dalam negeri, mulai dari produk utama hingga limbahnya, untuk kedaulatan energi.
Artikel Terkait
Anak Terluka Diduga Akibat Peluru Nyasar, Latihan Militer Korsel Dihentikan Sementara
Lonjakan 247 Persen Pemudik Laut di Pelabuhan Tenau Kupang
Transjakarta Perpanjang Jam Operasi Bus Wisata Selama Libur Lebaran 2026
Kemenag Ingatkan Etika Berbuka Saat Mudik dan Anjurkan Manfaatkan Aplikasi Pusaka