Gagasannya jelas. Dengan mengembangkan biodiesel atau biosolar, Indonesia bisa lebih mandiri. “Jadi kita nanti biodiesel, biosolar itu akan membuat kita bebas dari ketergantungan luar,” paparnya. Dia memberi kelonggaran bagi yang tetap ingin menggunakan bensin, dengan nada sedikit sinis. “Yang mau pakai bensin terus silakan, orang kaya bayar aja nggak apa-apa harga dunia. Tapi rakyat kita bisa hidup dengan solar.”
Tak berhenti di situ, Presiden juga menyoroti pemanfaatan limbah. Minyak jelantah, yang sering diabaikan, ternyata bisa diolah menjadi bahan baku avtur. Ini yang membuatnya mengambil langkah tegas.
“Limbahnya kelapa sawit, jelantah itu, bahan untuk avtur,” jelasnya.
Karena itu, dia memutuskan untuk menahan komoditas itu di dalam negeri. “Sehingga maaf bangsa-bangsa lain saya tutup. Saya larang ekspor limbah kelapa sawit, ekspor jelantah. Harus untuk kepentingan rakyat Indonesia dulu,” tutur Prabowo dengan nada tegas.
Pidato itu menunjukkan arah kebijakannya: memaksimalkan sumber daya dalam negeri, mulai dari produk utama hingga limbahnya, untuk kedaulatan energi.
Artikel Terkait
Bahar bin Smith Resmi Jadi Tersangka Kasus Pengeroyokan Banser
Masjid Jadi Titik Terang di Tengah Reruntuhan Longsor Cisarua
Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Jadi Sorotan Gedung Putih
KPK Periksa Penilai Pajak dan Staf Perusahaan Terkait Dugaan Suap di Kantor Pajak Jakarta Utara