“Meskipun telah berkomitmen secara publik, organisasi itu enggan mentransfer daftar tersebut,” keluh kementerian tersebut.
“Selanjutnya, MSF mengumumkan bahwa mereka tidak berniat melanjutkan proses pendaftaran sama sekali. Ini jelas bertentangan dengan pernyataan sebelumnya dan protokol yang mengikat,” sambung pernyataan itu. Akibatnya, operasi MSF di Gaza dipastikan berakhir pada 28 Februari 2026.
Di sisi lain, MSF punya alasan sendiri. Lewat pernyataan di situs webnya, mereka mengaku sebenarnya bersedia berbagi data. Tapi ada satu syarat besar: jaminan keselamatan untuk staf Palestina mereka.
Mereka khawatir. Khawatir data yang diberikan justru akan digunakan untuk hal-hal di luar tujuan administratif dan membahayakan nyawa rekan-rekan mereka di lapangan. Sampai sekarang, jaminan konkret itu belum juga mereka dapatkan.
“Kesimpulannya, kami tidak akan membagikan informasi staf dalam keadaan saat ini,” tegas MSF. Jadi, ini seperti jalan buntu. Pemerintah Israel bersikukuh pada aturan, sementara MSF bergeming demi perlindungan timnya. Situasi yang, sayangnya, membuat warga Gaza yang paling dirugikan.
Artikel Terkait
Asap Jingga di Cilegon Bikin Heboh, Ternyata Cuma Reaksi Kimia
Megawati Bicara Kepemimpinan Perempuan di Forum Bergengsi Abu Dhabi
Megawati Sambut Ajakan Spesial ke Museum Zayed Saat Kunjungan di Abu Dhabi
Pencarian Intensif di Kali Bekasi untuk Pria yang Tercebur Saat Tebang Pohon