“Republik Islam Iran tidak pernah menginginkan, dan sama sekali tidak menginginkan, perang,” kata Pezeshkian. “Kami sangat yakin bahwa perang tidak akan menguntungkan Iran, Amerika Serikat, maupun kawasan ini.”
Di sisi lain, Donald Trump mengakui bahwa pembicaraan memang sedang berlangsung. Tapi gaya khasnya tetap muncul: penuh teka-teki dan ancaman terselubung. Saat diwawancarai Fox News, dia enggan membongkar agenda sebenarnya.
“(Iran) sedang berbicara dengan kami, dan kita akan lihat apakah kita dapat melakukan sesuatu, jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi,” ucap Trump dengan santai, namun diikuti pernyataan yang mendinginkan suasana. “Kita memiliki armada besar yang menuju ke sana.”
Lalu dia menambahkan, singkat saja, “Mereka sedang bernegosiasi.”
Jadi, situasinya begini: di balik layar, dialog mungkin berjalan. Tapi di panggung utama, retorika dan postur militer masih sama-sama dikerek tinggi. Dunia hanya bisa menunggu, melihat mana yang akan lebih dulu mereda: kata-kata panas atau niat untuk berdamai.
Artikel Terkait
Anak Terluka Diduga Akibat Peluru Nyasar, Latihan Militer Korsel Dihentikan Sementara
Lonjakan 247 Persen Pemudik Laut di Pelabuhan Tenau Kupang
Transjakarta Perpanjang Jam Operasi Bus Wisata Selama Libur Lebaran 2026
Kemenag Ingatkan Etika Berbuka Saat Mudik dan Anjurkan Manfaatkan Aplikasi Pusaka