Wamenos Minta Wartawan Bantu Sosialisasikan Sekolah Rakyat Prabowo

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 09:35 WIB
Wamenos Minta Wartawan Bantu Sosialisasikan Sekolah Rakyat Prabowo

Dalam acara Retreat PWI 2026 yang digelar di Pusdiklat Bela Negara Kemhan, Bogor, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono punya pesan khusus untuk para wartawan. Ia mengajak insan pers yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia untuk turut menyukseskan program Sekolah Rakyat. Caranya? Dengan menyebarluaskan informasi soal program prioritas Presiden ini ke khalayak luas.

“Ini yang perlu dikabarkan oleh PWI ke seluruh rakyat Indonesia, bahwa Presiden untuk memutuskan kemiskinan sedang membangun Sekolah Rakyat permanen,” ujar Agus, dalam keterangan tertulis yang diterima pada Sabtu (31/1/2026).

Ajakan itu bukan tanpa alasan. Saat ini, program yang digagas Presiden Prabowo itu sudah mulai berjalan. Ada 166 sekolah rintisan yang menampung tak kurang dari 15.594 siswa. Mereka berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Di sisi lain, pembangunan sekolah permanen juga sudah dimulai tahun ini, dengan target awal 104 lokasi.

Namun begitu, angka itu rupanya masih dinilai kurang. Agus mengungkapkan, targetnya justru ditambah.

“Sekarang ini sedang proses pembangunan Sekolah Rakyat permanen di 104 titik, tapi Pak Presiden mengatakan tahun ini harus 200 titik,” katanya.

Ke depannya, cita-citanya jauh lebih besar. Ditargetkan akan ada 500 sekolah rakyat permanen yang tersebar di seluruh Indonesia. Setiap sekolah dirancang untuk menampung sekitar 1.000 siswa. Sebagai awalan, program ini telah diresmikan langsung oleh Prabowo.

Lokasinya pun tak sembarangan. Sekolah-sekolah ini dibangun di atas lahan yang disediakan pemerintah daerah. Luasnya minimal 6,8 hektar bahkan ada yang mencapai 9 atau 10 hektar. Dengan luas seperti itu, fasilitas yang disiapkan bisa cukup lengkap.

“Supaya kemudian Sekolah Rakyat itu bisa, ada kelas, ada asrama, ada dapur, ada tempat makan, ada tempat ibadah, dan lain-lain, minimal 6,8 hektare,” tutur Agus menjelaskan.

Program ini bukan sekadar memberi akses pendidikan gratis. Lebih dari itu, ada upaya pemberdayaan bagi keluarga siswa untuk memutus mata rantai kemiskinan. Menurut Agus, Sekolah Rakyat adalah bagian dari ikhtiar besar mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Ada tiga target utama yang hendak dicapai. Pertama, tentu saja, mencetak anak-anak yang cerdas.

“Walaupun berasal dari keluarga miskin, Pak Presiden ingin mereka menjadi anak-anak yang pintar,” kata Agus.

Kedua, melalui konsep sekolah berasrama, siswa dipersiapkan menjadi pribadi berkarakter. Mereka diharapkan punya kemandirian, disiplin, tanggung jawab, dan jiwa kebangsaan yang kuat. Pendidikan karakter jadi fondasi utamanya, bukan hanya pelajaran akademik belaka.

Terakhir, yang tak kalah penting: keterampilan. Ini yang akan jadi bekal nyata setelah mereka lulus nanti.

“Yang ketiga apa? Selain cerdas dan berkarakter, punya sains, punya rasa nasional semua yang kuat, mereka juga harus terampil,” tegas Agus.

Di akhir arahannya, Agus kembali menekankan peran penting PWI. Ia berharap organisasi wartawan ini bisa mengamplifikasi program-program prioritas pemerintah, termasuk Sekolah Rakyat.

“Karena Pak Presiden ingin program-program prioritas itu secepat-cepatnya bisa dinikmati oleh rakyat, Presiden selalu perintahkan itu,” pungkasnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler