Pangeran Mohammed bin Salman punya pesan penting untuk Iran. Dalam sebuah percakapan telepon dengan Presiden Iran yang baru, Masoud Pezeshkian, Putra Mahkota Arab Saudi itu menegaskan satu hal: negaranya tak akan jadi panggung untuk serangan militer terhadap tetangganya itu.
“Posisi kerajaan dalam menghormati kedaulatan Republik Islam Iran,” begitu bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Saudi, yang dikutip AFP Rabu lalu.
Pernyataan itu menambahkan, Kerajaan tak akan mengizinkan wilayah udara atau teritorialnya digunakan untuk aksi militer apa pun yang ditujukan ke Iran. Sebuah sikap yang jelas-jelas ingin menjaga jarak dari potensi konflik.
Ini bukan sekadar basa-basi diplomatik. Langkah Riyadh ini, di sisi lain, mempertegas komitmen mereka untuk meredam eskalasi dan sebisa mungkin menjaga stabilitas di kawasan yang sudah cukup panas.
Latar belakangnya? Tekanan dari Washington. Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump membuat pernyataan yang cukup menggemparkan. Ia mengklaim telah mengerahkan “armada besar” militer AS mendekati Iran.
“Kita memiliki armada besar di dekat Iran. Lebih besar dari Venezuela,” ujar Trump dalam wawancaranya dengan Axios.
Ia bahkan membandingkannya dengan pengerahan aset militer AS di sekitar Venezuela sebelumnya operasi yang berakhir dengan penggulingan Nicolas Maduro. Kapal induk USS Abraham Lincoln dan kelompok tempurnya dikabarkan telah tiba di kawasan Timur Tengah, menambah ketegangan yang sudah terasa.
Jadi, di tengah ancaman dan posturing militer seperti itu, pernyataan Mohammed bin Salman terdengar seperti upaya menenangkan situasi. Arab Saudi, tampaknya, tak ingin terjebak di tengah.
Artikel Terkait
Qatar Mediasi Iran-AS, Kesepakatan Buka Jalur Selat Hormuz dan Inspeksi Nuklir Tinggal Finalisasi
Jemaah Haji Aceh yang Wafat di Tanah Suci Bertambah Jadi 10 Orang, Sebelas Lainnya Masih Dirawat
Mahasiswi di Samarinda Ditembak Mantan Pacar karena Tak Terima Putus
Sheffield FC, Klub Sepak Bola Tertua di Dunia, Tetap Aktif Setelah Lebih dari 150 Tahun Berdiri