Maduro Deklarasikan Darurat Militer Usai Ledakan Misterius Guncang Caracas

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 16:40 WIB
Maduro Deklarasikan Darurat Militer Usai Ledakan Misterius Guncang Caracas

Ledakan mengguncang Caracas dini hari itu. Setidaknya tujuh kali dentuman keras, diselingi deru pesawat terbang rendah, membangunkan warga ibu kota Venezuela dari tidur mereka. Dari beberapa sudut kota, kepulan asap tebal terlihat menjulang ke langit yang masih gelap.

Tanggapan pemerintah tak lama menyusul. Presiden Nicolas Maduro, pada Sabtu (3/1), langsung menetapkan keadaan darurat. Ia menyebut insiden ini sebagai bagian dari "agresi militer yang sangat serius" yang dilancarkan Amerika Serikat.

Lewat sebuah pernyataan resmi yang dikutip media seperti AFP dan CNN, pemerintahan Maduro melayangkan kecaman keras.

"Venezuela menolak, menyangkal, dan mengecam di hadapan komunitas internasional, agresi militer yang sangat serius yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat saat ini terhadap wilayah dan rakyat Venezuela,"

Begitu bunyi pernyataan itu. Mereka menuduh serangan itu menyasar tidak hanya Caracas, tapi juga negara bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira.

Di sisi lain, Washington sendiri masih bungkam. Pemerintah AS belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan yang dilontarkan Caracas. Namun, ceritanya jadi lain kalau kita lihat laporan dari dalam negeri mereka.

Sejumlah media terkemuka AS, sebut saja CBS News dan Fox News, mengutip keterangan pejabat pemerintah yang enggan disebut namanya. Menurut para pejabat anonim ini, militer AS memang berada di balik rentetan serangan di ibu kota Venezuela tersebut. Informasi ini, tentu saja, menambah panas suasana.

Menanggapi situasi yang makin runyam, Maduro pun mengambil langkah tegas. Ia dikabarkan telah menandatangani penetapan "keadaan darurat eksternal".

Tak cuma itu. Dia juga memerintahkan agar semua rencana pertahanan nasional segera disiagakan. Semuanya harus siap diimplementasikan kapan saja, jika situasi mengharuskannya. Langkah ini menunjukkan betapa seriusnya pemerintah Venezuela memandang ancaman yang mereka rasakan pagi itu.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar