Jet Pribadi Petinggi Militer Libya Jatuh di Turki, Seluruh Penumpang Tewas

- Rabu, 24 Desember 2025 | 08:30 WIB
Jet Pribadi Petinggi Militer Libya Jatuh di Turki, Seluruh Penumpang Tewas

Sebuah jet pribadi yang mengangkut petinggi militer Libya, Mohammed Al-Haddad, jatuh di wilayah Turki. Menurut keterangan resmi, pesawat sempat mengalami masalah kelistrikan sebelum akhirnya hilang kontak dari radar.

Kabar duka ini datang dari Ankara. Burhanettin Duran, Kepala Direktorat Komunikasi Presiden Turki, mengonfirmasi bahwa jet tersebut melaporkan keadaan darurat.

"Pesawat meminta izin untuk pendaratan darurat setelah melaporkan kerusakan listrik," ujarnya, seperti dilansir AFP, Rabu (24/12/2025).

Jet jenis Falcon 50 dengan nomor ekor 9H-DFJ itu lepas landas dari Bandara Esenboga, Ankara, menuju Tripoli pada Selasa malam. Namun, perjalanan itu berakhir tragis. Kontak dengan pesawat hilang tak lama setelah lepas landas, tepatnya sekitar pukul 20:52 waktu setempat.

Menteri Dalam Negeri Turki, Ali Yerlikaya, menyebut pesawat sempat mengeluarkan pemberitahuan darurat di dekat kawasan Haymana. Upaya pencarian segera dilakukan. Dan benar saja, puing-puing pesawat akhirnya ditemukan berserakan di dekat desa Kesikkavak, yang terletak sekitar 74 kilometer dari ibu kota Turki.

Tidak ada yang selamat. Mohammed Al-Haddad, sang Kepala Staf Angkatan Darat Libya, tewas dalam insiden itu. Kabarnya, pesawat itu juga membawa empat anggota rombongannya dan tiga awak pesawat.

Perdana Menteri Libya, Abdulhamid Dbeibah, menyampaikan duka mendalam. Ia menyebut kepergian Al-Haddad sebagai pukulan berat bagi negara.

"Kehilangan besar ini merupakan kehilangan besar bagi bangsa, bagi lembaga militer, dan bagi seluruh rakyat," kata Dbeibah, seperti dikutip Reuters.

Selain Al-Haddad, daftar korban juga mencakup sejumlah nama penting lain. Di dalam pesawat itu turut berada komandan pasukan darat Libya, direktur otoritas manufaktur militer, seorang penasihat kepala staf, serta seorang fotografer resmi dari kantornya. Sebuah tragedi yang benar-benar merenggut banyak nyawa kunci.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar