Memang, kondisi tahun ini berbeda. Cuaca ekstrem di penghujung 2025 membuat segalanya lebih menantang. Karena itulah, Herry menegaskan peran vital aparat pemerintah, TNI, Polri, dan seluruh stakeholder. Tugas utama mereka adalah melayani masyarakat dengan asesmen yang matang, tentu dengan berpatokan pada analisa BMKG.
Langkah mitigasi pun jadi kunci. Terutama untuk wilayah-wilayah rawan seperti Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dan Rokan Hilir (Rohil). Kolaborasi antar instansi dinilai mutlak diperlukan, apalagi jelang momen Natal dan Tahun Baru.
“Jika debit air di Kampar naik, maka Pekanbaru berpotensi terdampak,” katanya memberi contoh.
“Inilah momen kita untuk berkolaborasi, menguatkan identitas, dan bergandengan tangan melakukan terobosan guna menjaga marwah serta melindungi alam kita.”
Ia lantas mengingatkan pentingnya pendekatan ekologis. Penanaman pohon secara masif, menurutnya, adalah salah satu jalan. Alam yang terjaga akan menjaga kita kembali.
Untuk diketahui, Operasi Lilin Lancang Kuning 2025 akan berlangsung selama 14 hari, mulai 19 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Polda Riau sendiri telah menyiapkan sekitar 1.160 personel guna mengawal kedua perayaan besar tersebut.
Artikel Terkait
Anak Terluka Diduga Akibat Peluru Nyasar, Latihan Militer Korsel Dihentikan Sementara
Lonjakan 247 Persen Pemudik Laut di Pelabuhan Tenau Kupang
Transjakarta Perpanjang Jam Operasi Bus Wisata Selama Libur Lebaran 2026
Kemenag Ingatkan Etika Berbuka Saat Mudik dan Anjurkan Manfaatkan Aplikasi Pusaka