Hardiyanto Kenneth, anggota DPRD DKI Jakarta dari PDI Perjuangan, punya keputusan yang cukup mengejutkan. Dia berkomitmen menyumbangkan seluruh gaji dan tunjangannya selama setahun penuh di 2026 nanti. Tujuannya jelas: membantu pemulihan korban bencana di Sumatera dan Aceh.
Bagi Bang Kent sapaan akrabnya langkah ini lebih dari sekadar rasa simpati. Ini soal tanggung jawab moral. “Jabatan publik harus diiringi keberpihakan nyata,” ujarnya, menekankan bahwa ungkapan belasungkawa saja tak cukup di tengah situasi sulit seperti ini.
“Sebagai wakil rakyat, saya meyakini bahwa jabatan bukan sekadar amanah politik, melainkan panggilan moral untuk berani hadir di saat bangsa sedang diuji. Saudara-saudara kita di Sumatera dan Aceh saat ini tidak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga harapan dan rasa aman,”
Pernyataan itu dia sampaikan Kamis lalu (18/12/2025). Menurutnya, masyarakat di sana sedang berjuang membangun kembali hidup yang porak-poranda. Maka, dia memutuskan untuk turun tangan dengan cara yang konkret.
Dana yang disumbangkan nanti rencananya akan dialokasikan untuk dua hal yang mendesak: pengadaan genset dan pemenuhan air bersih. Kenapa? Sampai sekarang, banyak wilayah terdampak yang masih gelap gulita dan kesulitan mendapatkan air layak konsumsi. “Bantuan genset diharapkan bisa membantu penerangan, sementara air bersih adalah kebutuhan mendasar,” beber Kent.
Sebelum keputusan ini, dia sudah turun langsung. Bersama BAGUNA PDI Perjuangan DKI, dia membangun posko dapur umum di SD Simarpinggan, Tapanuli Tengah. Posko itu menyediakan makanan siap saji sepanjang hari, plus snack, minuman, dan obat-obatan bagi warga yang membutuhkan.
“Keputusan ini bukan bentuk pengorbanan heroik, melainkan kewajiban moral sebagai bagian dari anak bangsa yang dibangun di atas semangat gotong royong dan solidaritas antardaerah,”
Kent menyadari, sumbangan pribadinya tentu tak akan menghapus semua penderitaan. Tapi setidaknya, itu bisa menjadi secercah harapan. “Setiap rupiah yang disalurkan dengan niat tulus saya yakini dapat menjadi harapan baru,” katanya. Harapannya sederhana: membantu memulihkan kehidupan yang terhenti dan mengembalikan semangat mereka yang terdampak.
Di sisi lain, dia menegaskan bahwa bantuan harus diberikan tanpa pandang bulu. Baginya, bencana tidak mengenal batas wilayah atau jabatan.
“Apa yang bisa kita lakukan untuk orang banyak, itulah yang harus kita lakukan. Meskipun saya berada di DKI Jakarta, apa pun yang bisa saya bantu, akan saya lakukan untuk para korban bencana ini,”
Bahkan, sebagai simbol empati, Kent menyatakan kesediaannya untuk melepaskan seluruh atribut jabatannya. Yang penting, kata dia, kepedulian kemanusiaan harus diutamakan di atas segalanya.
Menurutnya, ketika Sumatera dan Aceh terluka, seluruh bangsa ikut merasakan duka itu termasuk Jakarta. “Sudah sepantasnya saya yang diberi kepercayaan dan fasilitas oleh negara berdiri di barisan terdepan, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan langkah nyata,” tegas Ketua IKAL PPRA Angkatan LXII itu.
Harapannya, langkah kecil ini bisa menginspirasi banyak pihak. Baik pejabat publik, tokoh masyarakat, maupun warga yang punya kemampuan lebih, untuk ikut membantu.
“Sebab kekuatan bangsa ini tidak diukur dari megahnya gedung atau besarnya anggaran, melainkan dari seberapa kuat dan berani kita saling menopang ketika salah satu anak bangsa terjatuh,”
Begitulah tutupnya. Sebuah ajakan moral yang sederhana, tapi sarat makna.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi