Lalu, bagaimana modus mereka bekerja? Dirkrimsus Polda Metro Jaya, Kombes Edy Suranta Sitepu, membeberkan rincian peran para pelaku. Ada wanita berinisial NS yang jadi otak pelaksana aborsi.
"Saudari NS ini berperan sebagai eksekutor. Dia bertingkah seolah-olah dokter obgyn yang paham betul prosesnya," kata Edy.
Namun begitu, NS tidak bekerja sendirian. Dia dibantu oleh RH yang bertugas mendampingi selama proses berlangsung. Sementara itu, tersangka lain berinisial M punya peran layaknya sopir dan customer service.
"M ini yang menjemput dan mengantar pasien, dari awal sampai selesai tindakan," tuturnya.
Di sisi lain, operasi ini butuh tempat dan promosi. Pria bernama LN lah yang menyewa apartemen tersebut. Sedangkan YH mengelola website yang jadi sarana promosi utama klinik ilegal ini. Melalui situs itulah calon pasien mereka dapat dijaring.
Yang menarik, dua orang pasien, KWM dan R, juga ikut ditetapkan sebagai tersangka. Saat penggerebekan terjadi, keduanya sedang berada di dalam kamar 28A lantai 28 apartemen itu. Posisi mereka kini ikut diperiksa secara hukum.
Artikel Terkait
Israel Ancam Hentikan Operasi MSF di Gaza Soal Daftar Staf
Sambutan Hangat di Abu Dhabi, Megawati Ditanya: Lebih Sayang Anak atau Cucu?
Indonesia Kecam Serangan Israel di Gaza: Pelanggaran Gencatan Senjata yang Memicu Kembalinya Mimpi Buruk
Longsor Pangalengan Tewaskan Dua Anak Saat Makan Siang