Gunungan sampah di Bantargebang yang sudah menyentuh angka 55 juta ton jelas bikin pusing. Nah, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, punya rencana buat mengatasinya. Solusinya adalah dengan membangun dua unit Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau PLTSa. Menurut Pramono, ini jadi cara ampuh menghadapi keterbatasan daya tampung tempat pembuangan akhir yang legendaris itu.
Dia mengungkapkan hal ini di Cilincing, Jakarta Utara, Selasa lalu.
"Untuk Bantargebang, karena kita akan segera memulai PLTSa. Sesuai dengan pembicaraan dengan Danantara dan Pak Rosan secara langsung, akan ada dua Pembangkit Listrik Tenaga Sampah," ujar Pramono.
Dia tampak optimis. Kehadiran kedua PLTSa itu diharapkan bisa menekan volume sampah yang selama ini numpuk terus. Intinya, sampah yang diolah jadi energi bakal mengurangi stok di Bantargebang pelan-pelan.
"Mudah-mudahan 55 juta ton yang sekarang stok ada di Bantargebang secara signifikan pelan-pelan akan turun," harapnya.
Memang, mendesak banget. Soalnya TPST Bantargebang diprediksi cuma sanggup nampung sampah untuk beberapa tahun ke depan saja. Makanya proyek ini penting banget.
Di sisi lain, proyek sulap sampah jadi listrik atau waste to energy (WTE) ini rencananya digarap oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Mereka berharap proyek semacam ini bisa menjawab persoalan sampah di banyak kota.
Managing Director Stakeholder Management and Communications Danantara Indonesia, Rohan Hafas, angkat bicara soal akar masalahnya. Dia bilang, berdasarkan data Bank Dunia, sekitar 60% sampah kita gagal dikelola dengan baik.
"Nah tadi Bank Dunia ya 60% (berakhir di jalanan dan selokan), 40% yang terolah. Dan selama ini kenapa masyarakat itu buang sampah, karena setiap di kampung, di rumahnya itu ada iuran mungut sampah kan, ada yang Rp 10 ribu ada yang Rp 15 ribu, tetapi banyak yang tidak mampu. Itulah makanya dia buang di sungai, dia buang di jalan," jelas Rohan dalam temu media di Wisma Danantara, Jakarta, akhir Oktober lalu.
Nah, buat dukung proyek WTE ini, pemerintah sendiri udah siapin beberapa regulasi. Misalnya, penyediaan lahan gratis, penghapusan tipping fee, sampai penetapan tarif listrik khusus sebesar 20 sen per kilowatt hour. Langkah-langkah ini diharapkan bisa bikin percepatan pembangunan PLTSa makin realistis.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi