Enam Tahun Diakui UNESCO, Pencak Silat Ditantai untuk Tak Sekadar Warisan

- Minggu, 14 Desember 2025 | 17:55 WIB
Enam Tahun Diakui UNESCO, Pencak Silat Ditantai untuk Tak Sekadar Warisan

Enam tahun sudah berlalu sejak UNESCO mencatat Tradisi Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Momentum itu dirayakan sekaligus direnungkan dalam sebuah acara bertajuk "Tasyakur dan Tafakur: Retrospeksi 6 Tahun Pencak Silat Tradisi Pasca Diakui UNESCO". Suasana di Gedung Serbaguna Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, kemarin, terasa khidmat namun penuh semangat.

Kehadiran Kementerian Kebudayaan dalam acara yang digelar bersama Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah penegasan. Komitmen negara untuk menjaga warisan yang hidup ini, melindunginya, dan memperkuat ekosistemnya agar tetap relevan dari generasi ke generasi.

Perlu diingat, pengakuan UNESCO itu sendiri didapatkan di Bogota, Kolombia, pada 2009. Pencak Silat jauh lebih dalam dari sekadar olahraga bela diri. Ia adalah warisan luhur yang di dalamnya terkandung falsafah hidup, spiritualitas, dan tentu saja, seni yang memukau.

Dalam orasi budayanya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengingatkan betapa kayanya negeri ini. Hingga Oktober 2025, tercatat 2.727 Warisan Budaya Takbenda di tingkat nasional. Potensinya bahkan disebutkan mencapai lebih dari 30.000. Dari sekian banyak itu, 16 elemen telah berhasil diinskripsi UNESCO, dan Pencak Silat adalah salah satunya.

Bagi Fadli, tradisi ini adalah media pendidikan karakter dan instrumen diplomasi budaya yang sangat strategis.

"Ini merupakan bagian dari warisan budaya yang harus dilestarikan, dalam arti dilindungi, dikembangkan, dimanfaatkan dan dibina, inilah amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan,"

katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (14/12/2025).

Menurutnya, pengakuan dunia jangan cuma jadi seremoni. Itu harus jadi titik tolak. Karena itu, Kementerian Kebudayaan berkomitmen penuh untuk memperkuat perlindungan, mendokumentasikan dengan baik, dan membangun kemitraan berkelanjutan dengan semua pihak, termasuk tentu saja KPSTI.

"Kita berharap ekosistem Pencak Silat semakin terbentuk. Jika ekosistem, khususnya Silat Tradisi, dapat terbentuk dengan baik, maka Pencak Silat Tradisi akan tumbuh dan berkembang di berbagai provinsi di Indonesia,"

pungkasnya.

Di sisi lain, pendokumentasian disebutkan sebagai langkah krusial. Di era digital seperti sekarang, cara mendokumentasikannya pun tak lagi konvensional belaka. Bisa lewat film dokumenter, atau partisipasi di berbagai festival internasional.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Yusron, dalam laporannya lebih menyoroti arah ke depan.

"Kita berharap, selain mensyukuri penetapan ini, kita merenungkan kembali arah Pencak Silat Tradisi setelah dinyatakan sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia, milik bangsa Indonesia,"

tuturnya.

Senada dengan itu, Ketua Umum KPSTI, Mahfudz Abdurrahman, mendorong agar Pencak Silat tak berhenti pada pengakuan. Ia harus terus hidup, dinikmati masyarakat, dan tampil di panggung global. Caranya? Melalui pelestarian kolaboratif yang masif dan sistematis.

"Komunitas Pencak Silat, IPSI, KPSTI, kemudian organisasi lainnya yang mewadahi Pencak Silat berkewajiban melestarikan, mendayagunakan warisan-warisan, terutama warisan Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Takbenda,"

jelas Mahfudz.

Acara kemarin juga dimanfaatkan untuk memberikan penghargaan. KPSTI Award diserahkan kepada sejumlah tokoh yang dianggap berdedikasi mengusung dan melestarikan Pencak Silat hingga diakui dunia.

Fadli Zon termasuk salah satu penerimanya. Nama-nama lain yang mendapat kehormatan sama antara lain almarhum Eddie Marzuki Nalapraya yang dijuluki Bapak Pencak Silat Dunia, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, budayawan Arief Rachman, Edwin Sanjaya, serta almarhumah Edi Sedyawati.

Ruang pertemuan itu dipadati banyak wajah familiar. Fadli Zon hadir didampingi Restu Gunawan dan Dirjen Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat Sjamsul Hadi. Tampak juga Dirjen Ekosistem Digital Kemenkominfo Edwin Hidayat Abdullah, perwakilan DPRD, budayawan Jatnika Nanggamiharja, serta tentu saja, para pengurus IPSI, KORMI, dan berbagai komunitas pencak silat. Mereka semua berkumpul, merayakan satu warisan yang telah menyatukan bangsa.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler