Asap sudah sirna, tapi pertanyaan masih menggantung di udara. Di lokasi kerusuhan Kalibata, Jakarta Selatan, sembilan kios dan enam sepeda motor habis dilalap api. Kerugiannya tak main-main, mencapai angka Rp 273 juta. Menurut petugas pemadam, ada indikasi kuat bensin digunakan untuk memicu kobaran itu.
Nah, soal kios-kios yang jadi abu itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung angkat bicara. Ia mengonfirmasi satu hal: lahan tempat kios itu berdiri adalah milik Pemprov DKI.
"Memang lokasinya itu lokasi Pemda DKI," ujar Pramono, ditemui di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Minggu lalu.
Tapi, ia buru-buru menahan langkah. Soalnya, kasusnya masih panas dan penanganannya masih sepenuhnya di tangan kepolisian. "Persoalan yang ada di Kalibata kan masih ditangani pihak kepolisian. Ada pedagang, ada mata elang, dan sebagainya," tambahnya.
Intinya, Pemprov enggan terburu-buru. Pramono bersikukuh tak mau mendahului proses hukum yang sedang berjalan. Bantuan untuk pedagang yang kiosnya terbakar? Itu nanti dulu.
"Saya enggak mau ber-statement sebelum urusannya clear," tegasnya.
Ia memilih menunggu. "Kami menunggu sampai kemudian selesai hal yang berkaitan dengan persoalan hukumnya. Nanti pada saatnya akan saya sampaikan setelah ini clear."
Peristiwa ini sendiri berawal dari insiden pengeroyokan terhadap dua debt collector, atau yang akrab disebut 'mata elang'. Kericuhan pun tak terhindarkan. Massa yang emosi lalu membakar apa saja yang ada di sekitar lokasi, yang terletak di Jalan H Mahmud Raya, dekat Taman Makam Pahlawan Kalibata itu. Untungnya, tak ada korban jiwa dalam kerusuhan tersebut.
Kini, semua pihak tampaknya hanya bisa menunggu. Menunggu proses hukum berjalan, sebelum langkah selanjutnya diambil.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi