Kader NU di Luar Negeri Soroti Dinamika Internal, Desak Kembali ke Khittah

- Senin, 08 Desember 2025 | 16:40 WIB
Kader NU di Luar Negeri Soroti Dinamika Internal, Desak Kembali ke Khittah

Kader NU Se-Dunia Prihatin, Desak Kembali ke Khittah

Suara keprihatinan datang dari kader Nahdlatul Ulama yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Mereka menyoroti dinamika internal yang sedang berlangsung di tubuh Pengurus Besar NU. Pernyataan ini dilontarkan usai mereka menggelar pertemuan virtual besar-besaran, yang dihadiri oleh ratusan peserta dari puluhan negara.

Juru bicara forum tersebut, Syukron MD, dengan tegas mengingatkan kembali. Pendirian NU oleh para masyayikh dulu, katanya, punya tujuan luhur yang tak boleh diselewengkan untuk kepentingan politik praktis belaka.

"Para masyayikh mendirikan NU demi 'izzul Islam wal muslimin'. Menyeret NU ke pusaran politik dan kontestasi tarik tambang jelas-jelas bertentangan dengan tujuan pendiriannya," ujar Syukron dalam keterangan tertulisnya, Senin (8/12/2025).

Mantan Wakil Sekretaris PWNU Jatim periode 2018-2023 itu lantas menyinggung Khittah 1926. Dokumen historis itu, baginya, adalah pedoman utama yang menegaskan posisi NU: organisasi sosial-keagamaan, bukan alat perebutan pengaruh politik. Forum mendesak agar NU kembali pada ruh pendiriannya yang tertuang dalam Muqoddimah Qonun Asasi.

"NU harus kembali pada misinya: menjaga akidah 'ahlussunnah wal jama'ah', mengangkat martabat ulama, menyejahterakan umat, dan memperkuat solidaritas kebangsaan," tegasnya.

Di sisi lain, Syukron menegaskan salah satu kewajiban penting warga NU adalah meneguhkan otoritas syuriyah sebagai puncak tertinggi organisasi. Semua keputusan yang keluar dari sana sifatnya mengikat dan wajib dijadikan pedoman.

"Karena itu, kami mendukung langkah syuriyah PBNU menggelar rapat pleno pada 9-10 Desember nanti. Termasuk soal pengangkatan Pj Ketua Umum dan penetapan jadwal muktamar ke-35," jelas Syukron.

Menanggapi maraknya forum kultural di berbagai daerah seperti Bangkalan, Ploso, hingga Surabaya, Syukron punya pandangan khusus. Menurutnya, forum-forum itu tak perlu dipertentangkan satu sama lain, apalagi dengan keputusan formal Syuriyah.

"Semua forum itu adalah ikhtiar baik warga NU. Yang formal tetaplah mekanisme organisasi," katanya.

Ia menambahkan, para mustasyar bisa menyampaikan pertimbangan resminya lewat rapat pleno PBNU. Bahkan, untuk kelancaran transisi, Gus Yahya bisa diundang untuk menyampaikan salam perpisahan jika diperlukan.

Harapan besar mereka tentu pada rapat pleno yang akan digelar. Forum berharap pertemuan itu menghasilkan keputusan kolektif yang mampu menghentikan kegaduhan dan memberi arah pasti menuju Muktamar 2026.

"Kalau perlu pasca-Pleno, Munas Alim Ulama dan Konbes NU bisa digelar. Ini untuk upaya ishlah jam'iyyah dan pemulihan wibawa NU," terangnya.

Di akhir pernyataannya, Syukron mengajak semua pihak untuk lebih mengedepankan ikhtiar batin lewat munajat dan doa. Ia juga meminta agar semua menahan diri dari membuat narasi yang mendiskreditkan para pimpinan.

"Semoga masa penuh ketidakpastian ini segera berakhir dari gegeran menjadi ger-geran," pungkasnya penuh harap.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler