Warung Mie Aceh di Bogor Buka Dapur untuk Mahasiswa Korban Bencana

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 17:10 WIB
Warung Mie Aceh di Bogor Buka Dapur untuk Mahasiswa Korban Bencana

Di tengah hiruk-pikuk Kota Bogor, ada sebuah kedai Mie Aceh di Jalan Dr. Sumeru yang melakukan hal sederhana namun bermakna. Mereka memberikan makanan gratis untuk mahasiswa perantau asal Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Aksi ini muncul sebagai bentuk keprihatinan atas musibah banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah asal para pelajar itu.

Warung Mie Aceh Semeru itu buka sejak siang. Suasana di dalamnya hangat, beraroma rempah. Di antara pelanggan yang lalu-lalang, sering terlihat wajah-wajah muda mahasiswa asal Aceh yang sedang merantau.

Lambang, salah seorang pegawai di sana, mencoba menjelaskan alasan di balik kebijakan ini. Baginya, musibah di kampung halaman pasti berdampak langsung pada kehidupan anak rantau di perantauan.

"Bayangkan saja," ujar Lambang saat ditemui Sabtu lalu.

"Kalau di Sumatera sedang kena musibah, pasti banyak anak rantau dari Sumbar, Sumut, atau Aceh yang kelaparan. Bisa juga mahasiswanya belum dikirimi uang dari ibunya di kampung. Nah, dari situ bos kami setuju untuk buat makanan gratis."

Berasal dari Pengalaman Pahit

Rupanya, keputusan sang pemilik warung berangkat dari pengalaman pribadinya yang getir. Dulu, dia sendiri pernah merasakan pahitnya jadi mahasiswa dengan kondisi serba terbatas.

"Bos ini dulu juga pernah kuliah dan ngerasain susahnya," jelas Lambang. "Orang tuanya kadang kena musibah atau tak punya uang, sampai-sampai dia harus kerja keras untuk bisa bertahan kuliah. Pengalaman itulah yang sekarang mendorongnya untuk berbagi."

Sejak program ini berjalan, hampir tiap hari selalu ada yang datang. Jumlahnya tak menentu, bisa lima, sepuluh, atau bahkan lima belas orang. Ada pula yang datang hingga dua atau tiga kali. Dan itu tak jadi masalah.

Mereka dipersilakan makan sesukanya, kapanpun. Prinsipnya sederhana: selama bencana masih berdampak pada keluarga mereka di kampung, pintu warung ini terbuka.

"Kondisi di Aceh lagi susah sekarang. Mencari rezeki di sana sangat sulit," tambah Lambang. "Jadi program ini akan terus berjalan sampai keadaan mereka membaik dan kiriman uang dari keluarga sudah lancar lagi."

Di sela-sela makan, tak jarang para mahasiswa itu bercerita. Kisahnya beragam, mulai dari rumah yang hanyut, keluarga yang belum dapat bantuan, hingga kesulitan menghubungi sanak saudara di daerah bencana. Menurut Lambang, dampak banjir bandang kali ini serasa mengingatkan pada dahsyatnya tsunami 2004 silam.

Hingga saat ini, sang bos belum memutuskan kapan program makan gratis ini akan berakhir. Mungkin, selama rasa solidaritas itu masih ada, semangkuk mie hangat akan tetap tersedia untuk mereka yang merindukan rumah di tengah musibah.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler