Di tengah riuh perayaan ulang tahunnya yang ke-26, ada pesan penting yang disampaikan Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, untuk Morowali. Intinya sederhana tapi berat: jangan sampai pertumbuhan ekonomi yang melesat itu cuma dinikmati segelintir orang. Harus inklusif, adil, dan benar-benar meningkatkan kualitas hidup warga. Ia juga mengetuk pentingnya pemerintahan yang bersih, sumber daya manusia yang mumpuni, serta proses hilirisasi nikel yang tak mengabaikan kelestarian alam.
Pesan itu ia sampaikan saat menghadiri upacara HUT Kabupaten Morowali di Alun-Alun Rumah Jabatan Bupati, Sulawesi Tengah, Jumat lalu.
“Kita dapat hadir bersama-sama di bumi 'Tepe Asa Moroso' untuk memperingati momen bersejarah hari ulang tahun Kabupaten Morowali yang ke-26, yang mengusung tema 'Morowali Tangguh, Morowali Juara',” katanya dalam keterangan tertulis di hari berikutnya.
Usia 26 tahun, dalam pandangannya, adalah fase matang bagi sebuah daerah. Momen untuk merefleksikan jerih payah para pendahulu yang membangun fondasi hingga seperti sekarang.
Dan memang, transformasi Morowali layak disebut dramatis. Dari daerah yang dulu terpencil, kini menjelma jadi pusat ekonomi strategis. Kekayaan nikelnya menempatkannya sebagai pemain kunci dalam peta global industri baterai dan kendaraan listrik.
“Ini adalah sejarah besar yang sedang kita bangun bersama,” tegas Wiyagus.
Ia pun mengapresiasi capaian konkretnya. Data berbicara: PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi Morowali termasuk yang tertinggi di Sulteng. Pertanda perputaran uang yang sangat besar di daerah ini.
Tak cuma soal uang, kualitas manusianya juga merangkak naik.
“Selanjutnya, kualitas manusia Morowali pun terus membaik. Indeks Pembangunan Manusia, IPM kita tahun 2024 berada di angka 74,36 masuk kategori tinggi dan merupakan yang tertinggi kedua di Sulawesi Tengah setelah Kota Palu,” ungkapnya.
Namun begitu, di balik gemerlap angka-angka itu, tantangan menunggu. Yang utama adalah bagaimana memastikan kue pembangunan dibagi merata, sambil tetap menjaga proses hilirisasi nikel agar ramah lingkungan. Lalu, ada kebutuhan mendesak akan SDM terampil yang siap menyongsong investasi teknologi tinggi. Isu pengangguran lokal, kata dia, harus dijawab dengan pelatihan vokasi yang benar-benar sesuai kebutuhan industri.
“Kepada seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Morowali dan masyarakat Morowali [saya apresiasi] atas kerja kerasnya dalam membangun daerah ini menjadi salah satu pilar ekonomi nasional,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Wiyagus juga menyampaikan arahan pemerintah pusat. Fokusnya pada penurunan kemiskinan ekstrem, penguatan tata kelola bersih lewat SPBE, dan menjaga stabilitas keamanan sebagai syarat mutlak bagi iklim investasi. Transparansi dan pemberantasan korupsi adalah kunci untuk semua itu.
Di sisi lain, sinergi antara pusat dan daerah mutlak diperlukan, terutama dalam kebijakan hilirisasi dan penataan ruang. Aturan tata ruang harus ditegakkan secara tegas untuk mencegah alih fungsi lahan yang merusak. Sementara itu, sektor di luar tambang, seperti pertanian dan pariwisata, perlu dihidupkan kembali sebagai penopang ekonomi yang berkelanjutan.
“Semoga Morowali semakin maju, sejahtera, dan menjadi daerah yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Teruslah berkarya untuk bangsa dan negara. Dirgahayu Kabupaten Morowali,” pungkasnya.
Acara yang berlangsung khidmat itu turut dihadiri oleh Gubernur Sulteng Anwar Hafid, Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf, beserta Wakil Bupati Iriane Iliyas. Tampak juga jajaran Forkopimda Sulteng, plus berbagai tokoh masyarakat, adat, perempuan, dan pemuda dari seluruh provinsi.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi