Suasana Memanas di Bundestag: Politisi Perempuan Soroti Gelombang Hinaan dari AfD

- Jumat, 05 Desember 2025 | 17:45 WIB
Suasana Memanas di Bundestag: Politisi Perempuan Soroti Gelombang Hinaan dari AfD

Duduk di bangku pemerintah Bundestag, Menteri Kesehatan Nina Warken punya pengalaman langsung dengan suasana di parlemen Jerman. Pengalamannya itu tak selalu menyenangkan, terutama saat berhadapan dengan kelompok dari partai oposisi terbesar, Alternative for Germany (AfD).

“Saya mendengar banyak hal yang tidak tercatat dalam catatan resmi,” ujar Warken dari Partai CDU kepada sejumlah media. “Ada komentar-komentar merendahkan dan menghina terhadap perempuan.”

Menurutnya, komentar-komentar itu sangat buruk. Tak bisa diterima.

Sebagai pemimpin organisasi perempuan di partainya, Warken merasa suasana berubah sejak AfD masuk ke Bundestag pada 2017. Sekarang, politisi perempuan dari berbagai latar belakang partai kerap mendapat hinaan yang mengejutkan. Bukan cuma soal pandangan politik, tapi juga penampilan dan cara mereka berpakaian.

“Itu merendahkan martabat parlemen,” tegasnya. Dia menyerukan agar perilaku semacam itu dikutuk bersama. Intimidasi, baginya, tak punya tempat di sana.

Namun begitu, tudingan ini tak diterima begitu saja oleh pihak AfD.

Martin Sichert, juru bicara kebijakan kesehatan partai itu, punya pandangan lain. Lewat sebuah surel, dia menuduh Warken sedang mengalihkan perhatian publik dari persoalan riil di sistem kesehatan Jerman.

“Menteri mestinya menangani masalah nyata di negara ini daripada secara terbuka mencemarkan nama baik partai oposisi terbesar,” tulis Sichert.

Dia menegaskan AfD tak akan gentar. Justru sebaliknya, mereka akan terus menyoroti kegagalan pemerintah, khususnya di bidang kesehatan.

Suasana yang Kian Memanas

Angka-angka resmi seolah membenarkan keluhan Warken. Pelanggaran di Bundestag meningkat drastis. Coba lihat: tahun 2017, sebelum AfD masuk, hanya ada 2 peringatan. Lalu melonjak jadi 47 antara 2017 dan 2021. Dan dari 2021 hingga 2025, angkanya mencapai 135. AfD disebut bertanggung jawab atas 85 di antaranya.

Carmen Wegge dari SPD merasakan langsung dampaknya. Sejak jadi anggota parlemen pada 2021, dia rutin memeriksa catatan pidatonya. Seringkali dia menemukan keterangan singkat: “teriakan dari AfD.”

“Teriakan dan gangguan dari kubu mereka begitu banyak sampai pencatat sidang kesulitan mengikuti,” katanya. Strategi Wegge sederhana: mengabaikannya.

Menyikapi hal ini, Presiden Bundestag Julia Klöckner dari CDU mulai memperketat aturan. Teguran dan peringatan kini lebih sering diberikan. Koalisi pemerintah juga merespons dengan menaikkan denda.

Pelanggaran serius sekarang dikenai denda 2.000 euro, naik dari 1.000 euro. Kalau berulang, bisa mencapai 4.000 euro. Aturan baru juga menyebut, anggota parlemen yang dapat tiga panggilan ketertiban dalam satu sesi akan langsung dikeluarkan dari ruang sidang.

Tapi Wegge ragu. Dia tak yakin langkah hukum ini akan membuat AfD lebih moderat. Malah mungkin sebaliknya.

“Upaya intimidasi ini jelas bagian dari strategi mereka. Ucapan kasar itu cerminan pola pikir partai ini,” ujar Wegge.

Perubahan suasana ini juga dirasakan Claudia Roth dari Partai Hijau. Sebagai mantan wakil presiden Bundestag (2013-2021), dia termasuk yang paling sering diserang secara verbal.

“Setiap kali saya berbicara, selalu saja ada teriakan yang mencoba menenggelamkan suara saya,” keluhnya.

Roth yakin serangan itu punya tujuan ganda: mengganggu jalannya debat dan mencari dukungan di dunia daring. “Mereka merayakan hal-hal seperti itu di sana, ketika kebencian terus berlanjut,” katanya. Situasi ini, menurutnya, sangat mengganggu bagi rekan-rekan perempuan muda yang baru pertama kali berpidato di Bundestag.

Meski begitu, Roth menolak untuk diam. Suatu kali, dia sempat berpikir untuk menghindari istilah “kebijakan pembangunan feminis” dalam pidatonya karena tahu akan memicu reaksi keras. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk tetap mengucapkannya.

“Mereka berusaha menggoyahkan kami. Mereka berusaha membungkam kami. Mereka ingin membuat kami mundur, bahkan dalam perdebatan di parlemen Jerman. Dan itu sangat berbahaya,” tegas Roth.

Baginya, ini bukan sekadar soal perkataan kasar. Ini soal pertarungan yang lebih besar. AfD, menurut Roth, ingin menyerang perempuan dan minoritas, menggambarkan mereka sebagai musuh, dan pada akhirnya melemahkan institusi demokrasi itu sendiri.

“Dan jika kita membiarkan itu terjadi,” katanya dengan nada prihatin, “kita telah kehilangan segalanya.”

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman.

Diadaptasi oleh: Ausirio Sangga Ndolu

Editor: Muhammad Hanafi

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler